Foto by Tribunews

Prediksi Cara Pembungkaman Nazaruddin

Nazaruddin Tiba Di KPK (VIVAnews/Fernando Randy)
Nazaruddin Tiba Di KPK (VIVAnews/Fernando Randy)

Baru-baru ini kita semua tahu, kehebohan melanda seantero persada nusantara saat dan setelah ditangkapnya M. Nazaruddin, mantan bendahara Partai Demokrat yang menjadi tersangka kasus korupsi Wisma Atle SEA Games di Palembang. “Kicauan-kicauannya” dari tanah pelarian sempat membuat gerah orang-orang yang disebutkan olehnya, seperti misalnya saat Edhie Baskoro Yudhoyono mengatakan “Nazaruddin itu politikus bukan penyanyi, dan nyanyian-nyanyiannya tidak enak didengar”.

Setelah Nazaruddin tertangkap, situasi jadi serba “tiarap”. Berbagai pertanyaan dan harapan hinggap di banyak kepala, pertanyaan atas mungkinkah Nazaruddin akan mengungkapkan semuanya selantang kicauannya di tanah pelarian ?, dan harapan akan adanya upaya bersih-bersih secara besar-besaran dimana Nazaruddin bisa berperan sebagai “whistle blower”.

Ditengah berbagai pertanyaan dan harapan tersebut, nampaknya rasa ragu dan ketidakyakinan kalau kasus yang melibatkan Nazaruddin bisa diusut, dibongkar dan diselesaikan dihadapan hukum yang pasti secara tuntas. Hal ini bukan tanpa alasan, karena sudah ada contoh kasus sebelumnya yang timbul – tenggelam – timbul – tenggelam – dan tidak timbul lagi, seperti kasus Bank Century, kasus Dirjen Pajak yang melibatkan Gayus Tambunan, kasus Dugaan Suap Pemilihan Deputi Gubernur BI, kasus pembunuhan Munir, dan berbagai kasus lainnya.

Melihat banyaknya orang-orang yang disebutkan oleh Nazaruddin di pelarian yang dikuatkan oleh pernyataan para mantan pekerjanya, muncul dugaan dimasyarakat kalau Nazarudin akan dibungkam supaya tidak membongkar kebobrokan dinegeri ini yang sedikit banyaknya melibatkan/diketahui olehnya.  Dan kalau memang itu terjadi (naudzubillah, mudah-mudahan tidak ada yang sampai sekeji itu ya), kurang lebih ada 3 (tiga) kemungkinan cara untuk membungkan Nazarudin supaya tidak “ngoceh”, antara lain ;

Pencucian Otak dan Ancaman

Ini dianggap cara yang paling memungkinkan, sebab ini merupakan cara yang bisa dibilang halus dan metafisik. Yang “dihajar” langsung mental dan pikirannya. Kita tidak perlu dulu membayangkan dengan cara “black magic” atau lain sejenisnya, cara yang paling sederhana adalah dengan memberikan kondisi lingkungan dan waktu yang membuat Nazarudin tidak nyaman, tertekan, dan klimaksnya membuat dia defresi dan stres.

Masih ingat dengan kasus pencucian otak yang dilakukan oleh NII ?, cara tersebut bukan tidak mungkin juga bisa dilakukan pada Nazaruddin. Pengkondisian yang terus menerus membuat tegang saraf dan meningkatnya tekanan darah akan sangat mempengaruhi cara berpikir seseorang dan fatalnya bisa mempengaruhi juga daya ingat yang berujung pada alzheimer atau bahkan lupa ingatan. Kalau sudah lupa ingatan atau minimal punya penyakit lupa akut, maka tidak akan ada lagi yang bisa diungkapkan oleh Nazaruddin.

Selain dengan cuci otak, bisa juga dengan ancaman mengenai keselamatan keluarganya. Sedikit banyaknya ancaman tersebut juga kembali akan mempengaruhi kondisi mental dan pikiran Nazaruddin. Meskipun ancaman tersebut belum tentu benar dilakukan, setidaknya sudah memberi tekanan psikologis bagi dia.

Dijanjikan dan Diberikan Keuntungan

Ini mengingatkan kita kembali kepada Gayus Tambunan, dipenjara di tahanan paling “strength” tapi bisa jalan-jalan sampai ke Bali. Bukan tidak mungkin juga kalau ada yang mau membungkam Nazaruddin dengan menjanjikan dan/atau memberikan berbagai keuntungan buat Nazaruddin jika dia tidak membongkar kasus yang melibatkan/diketahui olehnya.

Keuntungan yang dijanjikan atau diberikan bisa macam-macam, bisa keuntungan materi dan finansial, keringanan hukuman, kembali mendapatkan proyek, atau lain sebagainya. Cara ini juga sangat memberikan peluang untuk membuat Nazaruddin “diam”, apa sebabnya ?, salah satu yang membuat Nazaruddin melarikan diri jelas ia tidak ingin menikmati hotel prodeo, kalau saja ia bisa seperti Gayus yang dulu bisa jalan-jalan sampai ke Bali meskipun dipenjara, atau mungkin seperti Ayin yang ruang selnya bagaikan hotel bintang lima, why not buat Nazarudin untuk tidak membongkar kasusnya ?.

Diracun atau Dibunuh

Cara ini memang masih memungkinkan, tapi sepertinya kecil sekali kemungkinannya. Sebab terlalu beresiko dan biasanya tidak terlalu sulit bagi Kepolisian (jika polisinya bersungguh-sungguh) untuk menemukan pelakunya. Kemungkinan (seandainya) Nazaruddin diracun atau dibunuh belum tentu dilakukan oleh orang-orang yang menjadi korban “ocehannya”, bisa jadi dilakukan oleh orang-orang atau kelompok-kelompok yang tidak suka dan ingin mengkambinghitamkan Partai Demokrat atau rezim penguasa.

Tulisan ini tidak bermaksud mengajak para pembacanya untuk berpikir negatif terhadap proses hukum Nazaruddin, atau bersikap apatis terhadap kinerja para penegak hukum negeri ini. Ini tidak lebih merupakan gambaran pembelajaran atas proses hukum di berbagai kasus sebelumnya (khususnya kasus korupsi) yang tidak kunjung tuntas dan mencedrai perasaan masyarakat.

Mudah-mudahan saja opini prediksi ini salah total, artinya tidak ada upaya pembungkaman terhadap Nazaruddin, dan kasusnya bisa dibongkar, diproses, dihadapkan kepada kebenaran hukum hingga tuntas.

Amin… !

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *