Bermain gelembung sabun dengan anak (ilustrasi : chem-is-try.org)

Bermain Dengan Anak-anak Mengurangi Rasa Penat

Di hari yang lumayan sejuk ini (pas ngetik langitnya lagi nangis), saya ingin berbagi sedikit tips yang mudah-mudahan bermanfaat. Yaitu cara yang sangat sederhana ( insya Allah) untuk mengurangi rasa penat.

Ko cuma mengurangi, tidak menghilangkan ?

Saya tidak bisa menjamin ini akan menghilangkan rasa penat, walaupun mungkin tidak menutup kemungkinan itu. Ini dikarenakan saya bukan ahli medis, bukan psikolog, bukan pula paranormal. Heheheeee…

Apa yang saya tuliskan disini adalah apa yang sudah coba atau pernah saya lakukan, dengan patokannya “sederhana” alias tidak mesti banyak mengeluarkan banyak modal.

Mungkin secara sepintas akan terkesan menggelikan ya, apalagi kalau bagi sebagian orang yang menganggap “haduh, enggak banget deh !. gue udah bukan anak-anak lagi kali…”.

Sewaktu kita kecil dulu, hidup ini terasa tidak terlalu penuh beban. Walapun pada saat itu kita ingin sekali cepat jadi orang dewasa, dan faktanya tidak sedikit orang dewasa yang nyeletuk “pengen jadi anak kecil lagi”.

Dunia anak kecil adalah dunia yang penuh keceriaan, dunia yang sangat menyenangkan. Keceriaan-keceriaan anak kecilpun sedikit banyaknya mulai banyak diadopsi untuk dunia orang dewasa. Lihat saja bagaimana permainan air soft gun mengingatkan kita sewaktu kecil dulu main tembak-tembakan dari pelepah daun pisang.

Ketika kita merasa lelah dan penat dengan berbagai persoalan pekerjaan, cobalah gendong anak anda, atau keponakan, atau anak saudara, kalau perlu anak tetangga. Ajak mereka bermain dengan cara mereka, lalu bermainlah bersama mereka  dengan penuh keceriaan, masuklah ke dunia mereka, dunia yang bebas dan merdeka. Saya yakin, sobat-sobat akan ikut tertawa ceria seiring dengan asiknya mereka bermain.

Setiap kali saya merasa sedikit penat, saya sering lekas pergi ke rumah kakak saya. Disana ada 3 keponakan saya, masing berumur 10 tahun, 5 tahun, dan 2 setengah tahun. Semakin sering saya mengajak mereka bercanda, ternyata merekapun semakin sayang sama saya. Setiap kali saya datang, ketiganya berlarian menyambut saya sambil teriak-teriak. Yang berumur 5 dan 2,5 tahun sudah pasti berebut minta digendong. Lumayan berat memang sobat ketika harus mengendong mereka berdua sekaligus, tapi itu mampu melenturkan kepenatan saya.

Tahu tidak sobat ?, ketika saya akan pergi meninggalkan mereka (kembali ke kontrakan) ketiganya seperti mentap penuh harap supaya saya lekas berkunjung lagi. Huphh… Indah sekali sobat, itu baru keponakan bukan anak sendiri.

Cobalah sobat, dengan dunia anak-anak akan ada banyak hal yang sering membuat kita tersenyum menetralisir ketegangan pikiran. Apalagi ketika kita coba membayangkan itu sebagai cerminan “mungkin seperti itu juga ketika saya masih kecil”.

Menyesuaikan Dengan Yang Mereka Sukai

Bermain gelembung sabun dengan anak (ilustrasi : chem-is-try.org)
Bermain gelembung sabun dengan anak (ilustrasi : chem-is-try.org)

Ketika kita bermain dengan anak-anak, jangan bawa mereka ke dunia kita yang jelas jauh berbeda dengan mereka. Tapi, kitalah yang harus menyesuaikan dengan mereka. Begitu kita memasuki dunia mereka, maka kitapun akan terbawa untuk menciptakan sebuah kondisi yang mengasyikan baik buat sang anak maupun dengan diri kita sendiri.  Tidak usah malu seolah terlihat kekanak-kanakan.

Misalnya begini, ketika anak-anak sedang asyik main gelembungan sabun, ikutilah permainan mereka. Tentunya bukan dengan cara merebut larutan sabun mereka, melainkan kitapun punya sendiri. Ajak mereka adu tbesar tiupan gelembungnya. Jangan lupa, sekali-kali kita mengalah untuk mereka (tanpa mengatakan kalau kita mengalah) untuk menumbuhkan semangat dan rasa percaya diri mereka.

Kalau sobat-sobat main sendirian, baru akan terasa malu dan tidak ada yang mengapresiasi dengan wajah penuh keceriaan. Tapi, ketika sobat main gelembungan sabun dengan anak-anak, maka anak-anakpun akan menyukai itu. Ia akan takjub begitu melihat gelembung yang sobat tiupkan lebih besar dari gelembung yang mereka tiup. Lalu kemudian anak-anak mengejar gelembung sobat dan teriak penuh gemas begitu menyentuh dan membetuskannya.

Om tiup lagi om…” atau “Pah… tiup lagi pah… yang gede yaaa….”

Mereka semakin ceria, dan semakin melihat mereka ceria kitapun semakin terbawa ceria. Sampai akhirnya rasa penat dan ketegangan pikiranpun ternyata mulai mengendur dari kepala kita. Lumayan sobat, dicoba ya… 

7 komentar untuk “Bermain Dengan Anak-anak Mengurangi Rasa Penat”

  1. mari kita dukung Stop American Censorship
    dengan memasang banner http://s.wordpress.org/images/stop-censorship.png

    lihat contohnya disini : http://www.djawadreang.com

    Sebarkan info ini untuk mendukungnya
    dan alamatkan kesini : http://americancensorship.org/
    atau anda juga bisa memasang script yang telah ada disana.
    atau untuk lebih mudahnya pasang script ini : http://www.djawadreang.com/wp-content/uploads/2012/01/Stop-American-Censorship.txt di widget saudara

    Bebaskan expresi kita
    Terima kasih.

      1. ini untuk mendukung dan membebaskan kita berekpresi dalam dunia internet., bayangkan bila sampai terjadi browser dan search engine raksasa ditutup., seperti google,fb,redit,paypal dll.,
        dan blog kita tampilannya hanya terlihat hitam., tak bisa dibua., maka dukunglah untuk menguatkan suara sedunia yang sedang berguncang membicarakan SOPA/PIPA,.

        1. Sebulan yang lalu saya sudah gencar ngomongin masalah ini di forum-forum dan grup, tapi malahan saya sempat dicemooh dan dicela dan mereka bilang “tak semengkhawatirkan Yang kau kira”. Nah sekarang udah mulai rame, saya lebih baik memikirkan peluang lain dari disahkan SOPA/PIPA ketimbang masuk dalam kepanikan.

          Kalau kita mau optimis, sekalipun SOPA/PIPA tersebut ditutup akan banyak peluang yang sebetulnya bisa diambil oleh bangsa Indonesia, sementara disaat bersamaan USA masuk kedalam zona isolir serupa Korut.

          Mungkin nggak, kalau SOPA/PIPA disahkan, perusahaan-perusahaan besar dibidang internet akan memindahkan basis bisnisnya dari USA untuk lepas dari kekangan SOPA/PIPA ?. Kalau mungkin, saya rasa itu peluang… 🙂

          “Ada kesempatan disetiap kesempitan” 😀

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *