Habis Manis Tidak Menjadi Sepah

Sebagian besar dari kita tentu pernah dan bahkan sering mendengar kalimat peribahasa “Habis Manis Sepah Dibuang”. Menurut saya pribadi, mungkin ini adalah salah satu peribahasa yang paling populer di sekitar kita.

Ucapan peribahasa tersebut meruapakan gambaran dari ungkapan kekecewaan terhadap orang atau siapapun yang dianggap tidak tahu terimakasih, tidak tahu diuntung, tidak tahu balas budi atau beda-beda tipis lah dengan “Kacang Lupa Jaketnya”.

Mungkin bisa dibilang wajar kalau kalimat sindirian tersebut keluar dari orang yang sudah banyak memberikan pengorbanan namun dikecewakan oleh orang yang ia beri. Tapi jika kita hanya berpatokan kepada kesan kalau kita ini menjadi sepah setelah berjasa tentu itu kurang baik. Stop !!!, berhentilah dengan menyebut diri sendiri sebagai sepah.

Saya ingin sedikit mengomentari pribahasa “Habis Manis Sepah Dibuang” tersebut. Kenapa saya bilang sedikit ?, kalau banyak mendingan dijadikan buku ya, kan sekarang gampang banget tuh nerbitin buku, soal kualitas nomor sekian aja dah, soal gak laku paling nanti saya sendiri yang galau. Heheheheeee…

Siapa dari kita yang tidak ingin habis manis sepah dibuang ?. Saya rasa semuanya tidak ingin ya. Ternyata caranya ada dan sangat sederhana, yatiu…. eh maaf yaitu maksudnya (tadi salah ketik) : jangan menjadi sepah, jangan menjadi sampah, jangan menjadi layak untuk dibuang. Okey, kita mulai rada serius nih ya.

Soal sepah-menyepah (halah… istilah apa pula ini), sepertinya kesalahan yang paling awal datang diri kita sendiri :

  1. Mau menjadi sepah (biar rada saklek baca : Sampah)
  2. Menganggap diri sendiri sebagai sepah
  3. Betah menjadi sepah

Baik, sekarang kita coba bahas satu persatu :

Mau Menjadi Sepah

Sejak sekolah SD saya yakin kita sudah tahu dengan peribahasa ini, tapi seringnya kita baru sedia payung setelah hujan. Baru merajuk-rajuk setelah semuanya terjadi. Baru menyesal setelah kekecewaan datang. Maka, kalau tidak mau menjadi sepah, sejak awal kita harus lebih berhati-hati dalam banyak hal, terutama soal mempercayai. Saran saya yang mungkin paling paten, kalau memang niatnya menolong maka niatkanlah karena Allah semata, jadi apapun ending-nya insya Allah tidak akan kecewa.

Yang paling miris lagi adalah ketika ungkapan “Habis Manis Sepah Dibuang” tersebut terlontar dari seorang perempuan yang (maaf beribu-ribu maaf) sudah menyerahkan kehormatannya kepada lelaki yang bukan suaminya, namun kemudian ia dicampakan. Ini bisa jadi pelajaran buat perempuan lainnya, jangan biarkan diri Anda menjadi sepah dengan menyerahkan kehormatan hanya bermodal rasa percaya.

Kemudian ada juga laki-laki yang merasa sudah banyak mengeluarkan materi untuk kekasihnya, namun dikemudian hari setelah hartanya terkuras habis ia menganggap dirinya habis manis sepah dibuang. Nah, pelajarannya terserah dah ambil masing-masing. Masih mau jadi sepah ?

Saya tidak ingin mengajak saudara-saudara untuk menjadi pribadi yang pelit, tapi kita harus lebih hati-hati lagi terhadap apa dan kepada siapa yang akan kita berikan. Kecuali mungkin kalau untuk yang berkaitan dengan materi kita bisa berpatokan kepada Lillahita’ala.

Menganggap Diri Sendiri Sepah

Hai, sadarlah !. Tidak ada satu orangpun yang menganggap dirimu sebagai sepah atau sampah atau sesuatu yang tidak berguna lagi. Bahkan dia yang sudah mengecewakanmu sekalipun. Yang ada adalah diri sendiri yang menganggap dirinya sebagai sepah.

Percaya atau tidak, ketika kita menganggap kalau diri kita sendiri sebagai sepah itu sudah memberi sugesti dan magnet untuk semakin membuat diri kita terpuruk. Jadi, jangan biarkan pikiran kita sendiri yang mebuang dan mengubur diri kita kedalam sampah sejarah.

Betah Menjadi Sepah

Ini yang paling fatal. Setelah disia-siakan dan merasa diri sendiri tidak berguna, eh malah tidak melakukan apapun yang mampu membangkitkan semangat dan potensi diri. Seolah-olah dirinya betah menjadi sampah, betah menjadi tidak berguna.

Agar tidak betah menjadi sepah, maka hindari perasaan kalau diri sendiri sudah diperlakukan seperti sepah. Bangkitlah, lakukan banyak hal yang mampu mengalihkan pikiran kita dari praduga-praduga yang malah tidak menyehatkan hati dan pikiran. Ingat, didalam diri kita ada segumpal organ yang kalau organ tersebut tidak sehat maka seluruh badan kitapun tidak akan sehat, yaitu hati.

Tunjukan kepada orang-orang yang sudah menyia-nyiakan kita kalau dia akan menyesal karena sudah menyia-nyiakan kita.

Penutup

Habis manis sepah dibuang pada dasarnya menurut saya (menurut orang lain mungkin saja berbeda) lebih dikarenakan kesalahan diri kita sendiri. Tidak perlu menyalahkan orang lain, karena itu hanya akan membuat diri kita benar-benar menjadi sepah.

Kesalahan yang dimulai dari “mau menjadi sepah”, kemudian diperparah lagi dengan “menganggap diri sendiri sebagai sepah”, dan diperhancur lebur lagi ketika “betah menjadi sepah”.

Yang cukup penting agar tidak menjadi sepah adalah tetaplah menjadi manis, teruslah berusaha dan berkarya, serta teruslah menjadi yang berguna dan bermanfaat yang membuat siapapun tidak sanggup untuk kehilangan Anda apalagi membuang Anda.

Demikian sobat, semoga bermanfaat, karena Anda… begitu manis.

4 komentar untuk “Habis Manis Tidak Menjadi Sepah”

  1. Beberepa Sepah yang terkenal adalah ampas tebu. ampas kelapa. Ampas tebu bila jumlahnya banyak juga masih berguna. Ampas kelapan juga masih berguna!
    Jadi bila menjadi ampas sekalipun, masih berguna. Tapi siapa yang mau menjadi ampas? Ampas, walaupun masih bisa digunakan, tetapi harganya jauh menurun…bahkan dapat dibilang sdh tdk berharga.

    Lain lagi bila Anda mendapatkan Ampas mercy (ada gak ya?), hahahaha.
    Tapi benar sekali, yang menjadikan diri kita ampas adalah kita sendiri. Jika ingin berharga tinggi maka JANGAN MENJADI AMPAS.

    Salam Takzim.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *