sambal kehidupan

Sambal Kehidupan

Siang itu matahari seperti sedang mengeluarkan semua unek-uneknya, ia sinari bumi dengan seterang-seterangnya sehingga nyaris membuat para penghuni bumi  seperti saya tidak henti-hentinya mengeluh kepanasan, dan berharap langit segera mendung kemudian muncul hujan yang bergantian shift dengan matahari.

Pada cuaca seperti itu yang sudah barang tentu panas, ternyata banyak sebagian dari kita yang sebetulnya cukup ekstrim meskipun mungkin terkesan biasa, yaitu keinginan untuk makan yang serba pedas disaat hari sedang panas.

“Wih… maknyus  nih kalau makan bakso terus sambelnya yang nendang !!!”

Kemudian ada lagi yang bilang :

“Panas begini… makan pake sambal terasi ekstra pedas ngejreng nih mata !”

Dan yang paling eksispun tidak ketinggalan :

“Panas-panas gini  kalo ngerujak ajib deh kayaknya !”

Dari nendang-nya bakso tadi yang kemudian diikuti oleh sambal terasi yang ekstra pedas terus disusul oleh rujak yang ajib, makanan-makanan tersebut sangat lengket dengan sambal. Ternyata, disadarai atau tidak, sepertinya sambal mempunyai makna lain yang Insya Allah bisa kita ambil hikmahnya.

Kenikmatan Dari Multi Rasa

Ada banyak rasa lain yang membuat sambal semakin nikmat. Ada rasa manis, asam, asin, gurih, bahkan pahit. Tapi bagaimanapun campuran rasanya, sambal tetaplah identik dengan rasa pedasnya, karena disitulah letak kenkimatannya. Ibarat kata, apalah artinya sambal kalau tidak pedas.

Lalu bagaimana jika sambal tersebut kita ibaratkan dalam kehidupan ?.

Setelah coba dipikir-pikir, jika dilihat dari multi rasa yang terbentuk dalam sambal tidak ubahnya kita dalam hidup.

  • Ada rasa asin yang bisa diibaratkan betapa kerasnya kehidupan dan memerlukan kerja keras.
  • Ada rasa asam yang bisa diibaratkan bahwa dalam hidup adakalanya orang lain bersikap tidak mengenakan.
  • Ada rasa pahit yang bisa diibaratkan kalau hidup tidak selalu semudah yang kita harapkan.
  • Ada rasa manis yang bisa diibaratkan bahwa dalam hidup juga ada banyak hal yang sebetulnya membahagiakan.
  • Ada rasa pedas dan panas yang bisa diibaratkan kalau hidup kita adalah ujian.

Bisa kita bayangkan, jika unsur rasa ada yang tertinggal dalam satu sajian sambal maka rasanya akan kurang nikmat. Mungkin demikian hal nya dalam hidup. Apa nikmatnya sambal kalau hanya terasa manis ?, begitu juga dengan hidup, jika tanpa ujian hidup kita akan terasa hambar dan begitu sekalinya diuji kita akan sangat terlihat cengeng dan gelisah.

Banyak situasi dan kondisi dalam hidup kita yang sebetulnya berbagai kondisi tersebut ada sebagai wujud kasih sayang Allah kepada kita, agar kita bisa merasakan betapa nikmatnya hidup ibarat kita merasakan betapa nikmatnya sambal.

Habis Sambal Tinggalah Haus

Setelah begitu lahapnya kita menikmati sambal, entah itu yang berbentuk saus, ulekan, sambal terasi, sambal tomat, sambal goreng, sambal kering, dan berbagai sambal lainnya. Maka, munculah rasa dahaga dari mulut kita yang penuh rasa haus. Kita tahu kalau sambal itu pedas, tapi dengan santainya kita begitu menikmatinya karena kita yakin bahwa setelah kita kepedasan akan bisa dinetralisir oleh yang namanya air.

Saya tidak bermaksud menyamakan atau mengumpamakan Tuhan dengan air, tapi ada satu pelajaran yang berharga bahwa Tuhan senantiasa hadir untuk memberikan kedamaian dan kesejukan buat diri kita.

Kalau dengan sambal yang pedas saja kita begitu menikmatinya, karena kita yakin setelah begitu kepedasan akan ada air yang menyejukan. Saya rasa (ini menurut saya yang bisa benar bisa juga salah), kitapun bisa mengambil pelajaran bahwa kita tidak perlu takut dan menyerah dalam menjalani hidup yang kadang ekstra pedas seibaratnya sambal, asalkan kita yakin dan sangat berpegang teguh bahwa Tuhan akan senantiasa hadir setiap saat untuk menyejukan dan mendamaikan jiwa-jiwa umatnya yang taat dan pantang menyerah dalam menggeluti pedasnya kehidupan.

Jadi, kalau kita merasa bahwa hidup ini sangat penuh ujian dan tantangan maka teruslah yakin berpegang teguh kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, ibarat kita saat menikmati sambal sambil berpegang teguh pada sebotol air segar.

Sobat, demikianlah sedikit coretan saya disaat senggang ditengah kengangguran saya. Mudah-mudahan bisa bermanfaat, mohon maaf atas segala kekeliruannya.

[box] “Bukan sambal namanya kalau tidak pedas, dan bukan hidup namanya kalau tidak ada ujian”.[/box]

sambal kehidupan

13 komentar untuk “Sambal Kehidupan”

  1. gue gak suka ama sambel yang berlebihan, walo gak suka banget tapi kadang gue nyariin nih sambel buat lalapan, jadi memang bner kata masbro kalo sambel pasti pedes haha kalo sekolah pasti ujian dan kalo hiudp pasti ada cobaan toh 😀

    maknyus dah btw ada capchanya sh masbro ribet dah

  2. Betul….. betul… betul…. setuju… Accor.
    Tidak akan kita tahu sesuatu itu nikmat, jika tidak pernah sengsara.
    Tikan akan kita tahu sesuatu itu manis, jika tak pernah rasakan pahit.
    Tidak akan kita tahu sesuatu itu membahagiakan, jika tak pernah sengsara.
    Semuanya jadi relatif, tergantung bagaimana kita menyikapi kehidupan.
    Semoga kita semua selalu sabar, bijak, dan tawakkal dalam menjalani hidup ini. Amien.

  3. Penggalan artikel saya dengan judul “Jangan Pernah Menyerah”, berbunyi:

    Dalam hidup ini kadang kita…
    Butuh Batu Kerikil supaya kita berHati-Hati,
    Butuh Semak Berduri supaya kita Waspada.
    Butuh Persimpangan supaya kita Bijaksana dalam memilih,
    Butuh Petunjuk Jalan supaya kita punya Harapan tentang arah masa depan.
    Butuh Masalah supaya kita tahu kita punya Kekuatan
    Butuh Pengorbanan supaya kita tahu cara Bekerja Keras,
    Butuh Orang Lain supaya kita tahu kita Tak Sendiri

    Yakinlah..
    Suatu saat kita akan sangat BERSYUKUR…atas segala TERPAAN HIDUP yang kita jalani…
    Melalui segala UJIAN dan COBAAN HIDUP yang kita Hadapi..
    Karena semua itu adalah Bagian dari Rangkaian KEMULIAAN…
    yang sedang dipersiapkan ALLAH buat kita.
    JANGAN PUTUS ASA dan JANGAN LEMAH HATI…
    ALLAH selalu BERSAMA orang yang SABAR & BERSERAH DIRI..

    Dan ngomong tentang Rasa, maka ada satu rasa yang terlupakan yaitu HAMBAR…kira2 apa ya kamsudnya serta filosofinya?

    Salam Takzim,
    Bagus H. Jihad

    1. Wah…. dapaet PR ilmu baru nih soal rasa :). Mudah-mudahan kita (khsusunya saya) bisa melalui Batu Kerikil, Semak Berdur, Persimpangan, Petunjuk Jalan, Masalah dengan baik ya Om… tidak pelit untuk sebuah pengorbanan dan selalu ada yang menemani. 🙂

      Luar biasa Om, artikel sama komentar jadi bagusan komentarnya. 🙂

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *