Gaya Hidup

Disiksa oleh Gaya Hidup

Untuk memahami maksud dari sebuah artikel secara menyeluruh, kembali kita mulai dari mencari pengertian poin terpenting dalam artikel itu sendiri. Termasuk untuk postingan kali ini coba kita telaah pengertian dari Gaya Hidup atau yang popular juga dengan istilah Lifestyle.

Pengertian “gaya hidup” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia  (KBBI) adalah: pola tingkah laku sehari-hari segolongan manusia di dalam masyarakat. Gaya hidup menunjukkan bagaimana orang mengatur kehidupan pribadinya, kehidupan masyarakat, perilaku di depan umum, dan upaya membedakan statusnya dari orang lain melalui lambang-lambang sosial. Gaya hidup dapat diartikan juga sebagai segala sesuatu yang memiliki karakteristik, kekhususan, dan tata cara dalam kehidupan suatu masyarakat tertentu.1

Banyak hal yang mempengaruhi gaya hidup setiap orang, dan yang paling umum adalah faktor interaksi sosial (pergaulan) dan transfer tradisi dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya melalui cepatnya informasi.

Sisi yang mengkhawatirkan dari gaya hidup seseorang adalah ketika sesuatu yang menjadi kebiasaannya tidak didukung oleh keadaan pribadinya.

Persoalan gaya hidup tidak hanya berhenti  pada kebiasaan semata. Teori kausalitas tetap berlaku, ada sebab ada akibat.

Salah gaul salah satu sebab yang memberi akibat lahirnya gaya hidup yang salah. Realitanya gaya hidup pun sudah melahirkan strata sosial baru dalam hidup bermasyarakat. Seolah ada kelas-kelas dalam hidup ; mana yang pantas untuk kita masuki dan mana yang tidak.

Celakanya, tidak jarang gaya hidup menyiksa individunya. Kita bisa membayangkan bagaimana motivasi untuk tetap trendi mengikuti arus globalisasi mengabaikan sisi-sisi kemampuan pada diri seseorang. Dengan begitu payahnya orang tersebut diseret-seret oleh gaya hidup.

Sepintas orang yang mempunyai gaya hidup wah terlihat menyenangkan. Tapi ada saat dimana sebetulnya sungguh kasihan.

Ia terlihat menyenangkan ketika apa yang dikehendakinya masih bisa diperoleh dengan mudah. Ia terlihat menyenangkan ketika masih memiliki pengcukupan atas kebutuhannya tanpa bijak dalam penggunaan.

Tapi, ini hidup. Hujan pun ada redanya,  terikpun ada mendungnya. Tak ada jaminan kita akan terus hidup dalam kondisi sebaik ini. Cepat atau lambat Tuhan bisa saja menempatkan kita pada ruang yang berbeda. Ruang yang penuh ujian, kesulitan, kesempitan dan kekurangan.

Memang, kita tidak menginginkan berada pada kondisi tersebut, tapi kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi. Yang diperlukan sekarang adalah bagaimana kita menyiapkan diri menjadi orang yang tidak cengeng dan tidak putus asa ketika berada pada kondisi tersulit.

Mengatur gaya hidup dengan penuh kesadaran adalah salah satu persiapan terbaik. Dimana kita tidak terlalu memanjakan diri dengan keadaan yang ada. Gaya hidup sederhana, tanpa harus mengikuti kebiasaan orang-orang yang memang keadaannya tidak sama dengan kita.

Bisa jadi keadaan kita tidak sebaik keadaan orang lain saat ini. Tapi dengan gaya hidup yang sederhana, dalam keadaan yang terburuk kita bisa lebih baik dari mereka.

Bayangkan, orang-orang yang terbiasa terlalu memanjakan dirinya akan begitu merasa tersiksa ketika hidup tak lagi memanjakannya. Keluhan demi keluhan yang disertai penghujatan terhadap Tuhan-pun tidak jarang terlontar dari mulut dan hatinya.

Sementara orang-orang yang biasa dengan kesederhanaan dan kemandirian, setiap momen hidup adalah kenikmatan buah dari kesyukuran. Ia tidak kalap dengan keadaan hidup yang sederhana tapi juga tidak lupa diri ketika dalam kemakmuran, karena kesederhanaan dan kemandirian sudah membentuk mentalnya.

Jangan biarkan diri kita disiksa oleh gaya hidup. Sudah bukan zamannya lagi hidup mengalir-alir saja, karena alirannya kini sudah banyak yang tidak jelas kemana ia bermuara. Ikut mengalirnya mungkin bareng-bareng, tapi dampaknya kerugiannya akan dirasakan masing-masing. Kemana arah hidup kita mengalir sudah waktunya untuk diatur dan diarahkan dengan baik.

Ketika berada di keadaan sulit, orang lain yang dulu bersenang-senang bersama belum tentu akan mempedulikan kita. Pada akhirnya, orang-orang yang berjiwa sederhanalah yang akan kembali menerima kita.

 1.                http://carapedia.com/pengertian_gaya_hidup_menurut_kbbi_info1832.html

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *