hujan kristal

‘Kristal’ di Balik ‘Hujan Batu’

Beberapa waktu lalu saya sempat menulis postingan yang berjudul “Kalaulah Pelangi itu Indah”. Dimana saya coba menggambarkan kombinasi antara kesedihan (yang dianalogikan oleh hujan air) dan keceriaan (yang dianalogikan oleh matahari) akan melahirkan keindahan. Tapi, di kemudian waktu saya menemukan pertanyaan baru atas tulisan itu sendiri.

Beberapa waktu yang lalu, saya sempat membaca status seorang teman di facebook dengan kalimat Hidup Tidak Semudah Cocote M***o T***h”.

Sepintas, kalimat tersebut rasanya begitu nyinyir, kasar, dan ga enak dibaca. Banyak perspektif dibalik untaian katanya. Ada keluhan, cemoohan, atau penegasan fakta lain yang terasa begitu sulit dihadapi. Tak semudah apa kata seorang motivator.

Apapun maksud dari kalimat tersebut, yang pasti sudah memancing saya untuk berpikir kembali tentang tulisan “Kalaulah Pelangi itu Indah” saya di beberapa waktu lalu.

Jika bukan karena hujan dan matahari tidak akan ada pelangi, kita semua hampir pernah mendengarnya, dan itu benar. Tapi, bagaimana bila hujannya adalah batu atau paling tidak adalah abu ?.

Masih bisa hadir kah sang pelangi ?, disini cukup sulit untuk berpikir tentang pelangi itu !.

Ketika hidup memukul kita dengan begitu keras, begitu cepat, kita merasa terjebak didalamnya. Kecil rasanya bisa terbebas dari kemelut .

Satu kisah nyata yang begitu mengagumkan diceritakan oleh seorang teman. Tentang seseorang yang berada dalam ‘guyuran hujan batu kehidupan’, begitu memukau dan menginspirasi saya karena ia mampu menjaga semangatnya tetap berada di skala yang positif secara konsisten. Dia memiliki persepsi positif yang teguh.

Kata-kata dan realitasnya meniup pikiran saya. Sebuah pola pikir yang mengingatkan saya seberapa jauh harus tumbuh dalam kedisiplinan mental dan optimisme yang mengakar jauh ke dalam jiwa.

Umumnya kita sudah tahu bahwa kehidupan adalah siklus, tapi bukan tidak mungkin beberapa fase siklusnya bisa kita alami bersamaan bukan ?. Ketika hidup ibarat hujan batu, banyak dari kita (termasuk saya) mengalami kesulitan melihat hidup dari perspektif iman. Apa yang kita pikir bahwa kita “tahu dan percaya” menjadi tersembunyi dan hilang di balik selimut keraguan dan keputusasaan oleh realitas yang kita alami.

Berikut ini adalah potongan ceritanya yang dikisahkan teman saya :

Setelah sekitar lima tahun saling mengenal, seorang pria yang juga sahabat bagi teman saya meminta perempuan yang dicintainya untuk menikah dengannya. Gayung bersambut, si perempuan pun menyatakan bersedia.

Berjalannya waktu, mereka hampir tidak memiliki waktu untuk saling berbagi cerita dan pandangan tentang rencana mereka, sampai kemudian tiba-tiba si pria terbaring di rumah sakit. Pada awalnya dikira hanya sakit biasa dan bisa dengan mudah diobati. Tapi kemudian… semuanya diluar dugaan.

Tes medis menunjukan hasil yang rumit. Situasi yang normal berubah menjadi mendung kelabu. Hampir tidak ada yang bisa memahami apa yang terjadi, tim medis sekalipun !.

Tes lagi, hari berlalu, tes lagi, hari berlalu… dan… situasi malah semakin memburuk, begitu aneh sakit yang harus dirasakan oleh si pria.

Keluarga mengira jika dia akan berada di rumah sakit selama satu minggu, dan paling-paling satu minggu kemudian atau lebih cukup untuk masa pemulihan setelah kondisinya membaik. Tapi tampaknya tidak, tim dokterpun seperti sedang memainkan permainan tebak-tebakan. Hingga kemudian, mereka mengatakan harus mengebor kepala si pria karena terjadi infeksi pada bagian otak. Semuanya menahan napas, sedih, lalu kemudian menunggu dan berdoa.

Di satu kesempatan, teman saya mengucapkan selamat kepada calon istrinya atas rencana pernikahan mereka. Meskipun kemudian teman saya harus mengaku bersalah karena memberikan ucapan selamat di momen yang tidak tepat (walaupun sebetulnya niatnya baik), karena itu hanya akan menambah derai kesedihan.

Lebih dari seminggu kemudian, teman saya akhirnya memiliki kesempatan untuk berbicara dengan si pria. Ia terbaring di ranjang rumah sakit dengan selang keluar dari tubuhnya, benar-benar hanya bisa berbaring. Dengan rasa sakit yang luar biasa dimana orang-orang di sekitarnya masih belum bisa memahami sakit apa yang dirasakannya, dan ketika berbicarapun nadanya sangat lambat. Tapi, inilah keajaiban:

“Iya kawan, aku sudah berpikir tentang pernikahanku.” Si pria membuka pembicaraan langsung kepada teman saya dengan tersenyum ditengah sakit yang ia rasa.

Disaat seperti itu, teman saya coba melakukan yang terbaik dengan tidak menangis. Walih batinnya terasa teriris melihat teman baiknya terbaring dengan untaian selang ditubuhnya tanpa kejelasan penyakit yang dia rasa.

Dengan membalas senyuman, teman saya berkata, “Benarkah? … Apa yang kamu pikirkan?”

“Kau tahu, aku ‘terjebak’ di sini dan aku tidak bisa berbuat apa-apa. Aku tidak ingin berpikir tentang jumlah uangku yang hilang, pekerjaan yang hilang, atau berapa banyak aku harus mengorbankan apa yang kumiliki untuk penyembuhan ini. Pikiranku tetap pada rencana pernikahan”.

Pada situasi ini, teman saya tidak bisa berhenti tersenyum. Begitupun saya yang mendengar penuturannya.

Pria tersebut terdengar seperti orang kelelahan mabuk. Suaranya tersenyum. Sayapun yang hanya mendengarkan pengisahannya seperti bisa merasakan kegembiraan dibalik optimisme harapannya.

Diapun melanjutkan untuk berbagi rencana pernikahannya, sampai ke ide-ide unik seperti cake toppers, lalu ia meminta teman saya yang mencarikannya. Tidak luput juga hal-hal detil ia rincikan, penuh keindahan bersama orang-orang yang begitu dicintainya.

Sampai pada titik pengisahan ini, gumpalan emosional begitu melilit saya. Ada rasa ingin menangis mendengar pengisahannya, tapi saya juga kagum pada responnya terhadap situasi kehidupan saat ini / kenyataan. Dia dapat terhubung dengan pikiran dan perasaan penuh kebahagiaan. “Dalam situasi seperti ini ?”, tanya dalam benak saya.

Ini sebuah pelajaran berharga buat saya setelah mendengar sebuah kisah pantang menyerah dan disiplin mental yang kuat. “Mana iman dan kekuatan mental saya ?”. Mungkin itulah pertanyaan yang harus saya lontarkan untuk menampar diri saya sendiri ketika dalam kondisi yang dirasa super sulit.

Sekitar belasan hari kemudian, teman saya bisa berbicara dengan dia lagi. Merasa ragu-ragu untuk bertanya, tapi teman saya juga merasa ingin tahu sekali tentang bagaimana dia tetap berpikir positif, bagaimana dia menjaga pikirannya tetap pada rencana pernikahan dan tidak jatuh ke dalam perasaan depresi dan penuh kemarahan karena takut rencanya gagal karena Allah berencana lain.

Teman saya merasa ragu untuk bertanya, tapi akhirnya dia bertanya juga : “Bagaimana pikiranmu bisa terus positif ?, Apakah itu alamiah, atau usaha ?”.

Ternyata jawaban dia sangat sederhana : “Ubah cara kita melihat sesuatu, dan sesuatupun akan membuat perubahan”.

Teman sayapun langsung tertegun, begitu singkat kalimat itu, tapi begitu panjang kata demi katanya yang harus dirangkai untuk menjelaskannya.

Dia pun kembali berkata : “Bersyukurlah, karena Allah sudah berjanji tidak akan menguji kita diluar batas kemampuan yang kita miliki. Itu artinya Allah akan selalu memberikan yang terbaik dan terlayak buat kita.”

Beberapa minggu telah berlalu, keadaannya sudah memulih. Setelah menghabiskan banyak waktu untuk berbaring di rumah sakit, dan menjalani tes seperti tak berujung dengan berbagai tindakan medis, akhinya dia pulang kembali ke rumahnya dan berkumpul bersama orang-orang yang dicintainya. Diapun meraih visinya.

Dari untaian kisah sederhana dan penuh makna di atas (setidaknya bagi saya), saya jadi berharap pikiran saya bisa lebih ‘sehat’, sehingga sayapun bisa hidup dalam ruang yang memfokuskan pikiran, emosi, dan energi pada kebahagiaan. Bukan hanya beberapa waktu, namun sepanjang waktu, terutama ketika ‘hujan air’ dan saya bisa mengambil sikap seolah-olah itu ‘hujan batu’.

Semoga kita dapat mengambil inspirasi, bahwa apa pun situasi hidup kita, kita harus bisa membimbing pikiran dan emosi kita sendiri. Kita mungkin tidak suka dengan situasi hidup kita, terasa berat luar biasa, tetapi orang ini terbaring di ranjang rumah sakit dengan selang di tubuhnya, bahkan tidak mampu duduk. Jika ia bisa fokus pada cinta dan pernikahannya, kita bisa melihat dengan jelas bahwa kita tidak perlu menyatu dengan situasi negatif kita, tetapi kita bisa memilih di mana kita memusatkan pikiran dan memungkinkan kita untuk mengendalikan emosi.

hujan kristal

Sumber gambar ilustrasi quote pra-edit : aragorn3000.deviantart.com

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *