Pemuda

Refleksi Hari Sumpah Pemuda : Ketika Pemuda Penuh Perkara

[dropcap style=”font-size: 60px; color: #3552e6;”]S[/dropcap]aat menulis artikel ini, saya pastikan bahwa saya masuk dalam klasifikasi orang muda atau  simpelnya disebut pemuda. Jadi kalau kemudian Anda menemukan kata atau kalimat nyinyir terkait kepemudaan di tulisan ini Anda tidak perlu marah, karena itupun adalah bahan cerminan dan evaluasi bagi diri saya juga.

Tadinya saya ingin mengutip apa yang dikatakan oleh Bung Karno tentang “beri aku sepuluh pemuda…”, tapi saya urungkan, karena sudah terlalu banyak artikel yang memuat kutipan tersebut. Ditambah lagi dengan setengah keraguan yang ada dalam benak pikiran saya tentang tidak yakinnya kalau 10 pemuda Indonesia mampu mengguncangkan jagad raya.

Kenapa saya merasa tidak yakin ?

Karena langkah 10 pemuda tersebut sekarang selalu dijegal oleh pemuda-pemuda yang lebih senang membenamkan Indonesia di dalam kubangan masalah.

Yang muda yang bermasalah

Apa yang muncul dalam benak pikiran Anda dari tulisan berikut : “Pemuda – Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) – Hari Sumpah Pemuda” ?. Silahkan Anda renungkan sendiri.

Sedih rasanya, ketika Kemenpora yang bagi saya ibarat simbol kepemudaan Indonesia dililit masalah sebukit (setidaknya sebukit Hambalang). Padahal, kementerian yang sempat ‘dirumahkan’ pada era Gus Dur dan Megawati ini memuncahkan harapan yang luar biasa ketika dihidupkan kembali oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Harapan yang bukan tanpa alasan di tengah keringnya prestasi olahraga Indonesia di kancah internasional. Adanya kembali Kemenpora saya yakini sebagai harapan Presiden untuk menjawab harapan rakyat Indonesia. Entah apa yang dirasakan oleh bapak presiden ketika yang menjadi harapannya itu seperti semakin jauh dari kenyataan.

Prestasi tak dapat diraih malang terus melintang, lembaga Negara ‘harapan bangsa’ ini kini malah identik dengan deraan kasus korupsi ketimbang julangan bendera prestasi. Alih-alih menjadi ladang ekspresi membangun generasi, kok malah jadi arena lezatnya proyek.

Sulit memang bagi saya untuk menunjukan kalau ‘di situ’ jadi arena lezatnya proyek, tapi cukup rasanya apa yang terjadi dengan kasus Wisma Atlet dan Megaproyek Hambalang sebagai bukti untuk memberikan saya (sebagai warga Negara biasa) pemahaman bahwa, kumparan kasus korupsi yang terkait dengan simbol kepemudaan tersebut sebagai tamparan telak untuk pemuda di Hari Sumpah Pemuda tahun 2012.

Masih bisakah pemuda dipercaya ?

Pertanyaan tersebut pasti akan terasa begitu menyakitkan ketika ditanyakan kepada pemuda yang mempunyai jiwa seperti yang dibayangkan oleh Bung Karno tentang 10 pemuda nya.

Seolah tertutup sudah kesempatan mereka untuk menunjukan jika sebetulnya masih banyak pemuda yang jauh lebih baik ketimbang yang menjadi noda setitik.

Di satu sisi ada begitu banyak orang –terlepas dari tua dan muda- yang begitu mendesak agar pemuda di beri kesempatan untuk memimpin. Tapi di sisi lain ketika segelintir pemuda yang dianggap hebat diberi kesempatan untuk memimpin malah menimbulkan paradoks kelayakan pemuda dalam memimpin. Ujung-ujungnya ini malah melahirkan istilah ‘tua muda tidak masalah, yang penting amanah’.

Setiap zaman dan generasi akan melahirkan karyanya. Kalaulah zaman kemerdekaan melahirkan generasi Indonesia yang mampu mengguncang dunia dengan prestasi, alangkah primitifnya kita jika di zaman (yang katanya modern ini) malah mengguncang dunia dengan noda dan bencana ?.

Pemuda
Pemuda (ilustrasi, dokumen pribadi)

Kerusakan sendi-sendi kepemudaan kian terasa, tidak perlu melontarkan tolak ukur ke masa penjajahan atau kemerdekaan, cukup mundur ke 10 atau 20 tahun lalu.

Fakta sederhana yang bisa kita lihat adalah sebagai berikut :

  • Organisasi Kepemudaan (OKP) kian menjamur dimana-mana, tapi beberapa diantaranya lebih dirasakan sebagai wadah premanisme yang lekat dengan kekerasaan dan gaya-gayaan.
  • Ada juga organisasi kepemudaan yang sudah diakui secara nasional dan terstruktur hingga tingkat desa (bahkan menerima anggaran pembinaan dari Negara) malah jadi perpanjang sayap politik segelintir orang yang haus akan kekuasaan. Singkatnya ; jadi alat politik !.
  • Kegiatan ekstrakurikuler yang membentuk mental dan kepribadian pemuda harapan bangsa seperti Pramuka dan Paskibra semakin kurang diminati. Dianggap norak dan katrok, kalau populer oleh kegiatan lainnya yang dianggap lebih menyenangkan yang mengabaikan nilai-nilai pembentukan mental dan kepribadian. Kalaupun masih ada yang meminanti, pembinaannyapun jarang menghasilkan efek yang diharapkan.
  • Rohis dianggap sebagai ekstrakurikuler yang identik dengan terorisme. Ini sebuah anggapan gila !. Apakah yang menganggap demikian tidak merasakan betapa setresnya guru agama sejati di sekolah melihat tingkah laku anak didiknya yang semakin berperilaku di luar batas kewajaran dan jauh dari nilai-nilai agama. Rohis adalah salah satu ruang harapan untuk menarik kembali generasi pada nilai-nilai keluhuran dan keteraturan agama.
  • Tawuran adalah tren, tidak sedikit pelajar dan mahasiswa yang sama-sama idiotnya ketika lebih senang melakukan tawuran ketimbang menimba ilmu dan menciptakan karya bermutu. Mereka mengenyam pendidikan tapi tidak lebih cerdas dari yang tidak mengenyam pendidikan. Mudah-mudahan mereka yang suka tawuran membaca poin ini.
  • Memikirkan soal bangsa bagi sebagian pemuda adalah hal yang menjemukan dan merumitkan, kalah prioritas oleh memikirkan diri sendiri. Istilah “jangan tanyakan apa yang sudah Negara berikan kepadamu, tapi apa yang sudah kamu berikan kepada Negara” sudah tidak berlaku. Bisa jadi juga karena sudah dibuat jemu oleh para pengelola Negara yang juga sama ; memikirkan diri sendiri !.

Betul memang, masalah-masalah tersebut adalah masalah bersama, tapi sebagai sebuah lembaga Negara yang bertanggung jawab membina dan memberdayakan pemuda, Kemenpora ada dimana ?. Saya bertanya demikian karena begitu banyak orang muda yang belum merasakan bahwa mereka dibina dan diberdayakan oleh Kemenpora.

Kalaupun pemuda tidak bisa memberikan solusi dan prestasi kepada bangsa dan Negara, seyogyanya tidak memberi atau menambah masalah. Paling tidak ini tidak akan menjadi “karena sampah setitik tercemar air dari matanya” bagi pemuda lainnya.

6 komentar untuk “Refleksi Hari Sumpah Pemuda : Ketika Pemuda Penuh Perkara”

  1. Selamat Sumpah Pemuda 2012. Kang Rosid (Bukan Sumpah Setia dengan kekasih) 🙂

    Walaupun boleh dibilang saya pribadi bukan disebut Pemuda lagi karena sudah tidak lajang :mrgreen: semoga moment ini tetap membangkitkan semua Warga Indonesia.

    Adapun polemik yang semakin kusut setidaknya membuat renungan kembali buat yang terkasus di atas sana.

  2. Beberapa hari yang lalu dengan tidak sengaja saya mendengar talk show di salah satu stasiun TV, hanya mendengar, dalam rangka memperingati Hari Sumpah Pemuda.

    Presenter: Kenapa pemuda sekarang yang terdengar kabarnya hanya dalam hal yang jelek-jelek, tawuran lah, teroris lah, tidak seperti pemuda jaman dulu yang sampai mencetuskan sumpah pemuda.

    Narasumber: Bla.. bla.. bla…

    Dalam hati saya berteriak,”NGACA DONG!”.

    Seharusnya peresenter tadi berkaca bagaimana jurnalisme kita dalam menyediakan berita yang akan dikonsumsi publik. Kenapa mereka lebih banyak menyempaikan kabar-kabar buruk terkait pemuda Indonesia. Bukankah masih banyak juga pemuda Indonesia yang berprestasi, yang jarang, bahkan tidak pernah, terliput oleh media.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *