Bu, Pernahkah Ibu Kehabisan Kata-kata ?

Pada kesempatan kali ini saya ingin bercerita sedikit sebuah sisi hidup dimana saya merasa begitu tertekan dan butuh sandaran untuk mengungkapkan isi hati dan pikiran.

Beberapa hari kebelakang, sebagian teman mengatakan ada yang berubah dari diri saya. Kurang asik, kurang aktif, datar, dan paling mengena ‘seperti sedang dalam kumparan masalah’.

Saya tidak ingin berbohong dengan ucapan, karena nyatanya sikap saya tidak bisa berbohong. Tapi, saya juga tidak bisa kalau harus jujur mengatakan apa yang saya rasakan. Mungkin inilah salah satu kelemahan saya, sering tertutup untuk hal-hal yang bersipat pribadi. Sulit rasanya untuk bisa dengan mudah mencurahkan isi hati kepada seseorang.

Puji syukur kehadirat Allah SWT, sosok ibu yang saya cintai senantiasa Ia hadirkan untuk menggengam hati saya agar tidak tercecer dalam serpihan persoalan yang terasa begitu berat harus saya pikul.

Bagi saya, ibu adalah tempat curhat terbaik. Tidak dipintapun ia memberi. Ia selalu bersedia mendengar tanpa harus menceritakan ulang kepada orang lain. Niscaya tak ada satupun orang tua yang ingin setiap persoalan anaknya diumbar kepada orang lain.

Usai maghrib, saya menelepon ibu di kampung. Ada begitu banyak rangkaian kata dan cerita yang ingin saya sampaikan, ingin didengar, dipahami, dan yang terpenting mendapatkan taburan do’a dan nasehat agar saya diberikan kekuatan.

Saya ceritakan semua apa yang sedang saya rasakan, ingin rasanya menangis saat bercerita, tapi ibu yang terlalu tegar membuat saya merasa malu jika harus menangis, karena sudah pasti ia tidak ingin punya anak laki-laki yang cengeng.

Ibu memang tidak menangis, tapi saya yakin bukan berarti ibu tidak empati terhadap anaknya yang merasakan beban hati dan pikiran begitu berat. Ibu ingin menunjukan bahwa seorang ibu adalah benteng pertahanan terakhir buat anaknya yang tidak akan ia biarkan rapuh.

Sepanjang saya bercerita, tidak ada satupun kalimat ibu yang memotong perkataan saya. Meski demikian, ibu paham apa yang saya rasakan, karena inti dari rangkaian curahan hati saya adalah “saya ingin di dengar”, apalagi saya tidak menyampaikan satupun perkataan yang harus dijawab oleh ibu.

Baru pada akhir cerita saya bertanya pada ibu, “Bu, pernahkah ibu kehabisan kata-kata saat aku tak pernah mendengar perkataanmu ?, saat aku tak menuruti nasihatmu ?, saat ibu harus menahan rasa sesak dalam batinmu karena ulahku ?”.

Lalu ibu menjawab, Pernah kehabisan kata-kata mungkin iya nak’, tapi ibu tidak pernah kehabisan kasih sayang untukmu”.

Sampai disini kami sama diam-diam, menarik napas, tak terasa bulir kecil air mata menetes, lalu saya tersenyum. Jawaban ibu sangat singkat, jauh lebih singkat dari rangkaian cerita saya yang lebih dari 40 menit. Tapi, ibu memberikan jawaban yang begitu mengena atas semua curahan hati saya.

Ada pesan ketulusan cinta yang tak mampu ditakar oleh bilangan apapun. Ketulusan yang tidak dilunturkan oleh kegetiran dan dorongan keinginan. Dimana sabar dan do’a menjadi senjata pengharapan semoga akan datang saat dimana kata-kata telah habis untuk diucapkan, ada sikap dan tatapan mata yang bisa dimengerti.

Terimakasih bu, walau mungkin aku tak sekuat batin ibu dan belum memiliki cinta setulus ibu. Ibu telah mengajarkan aku satu sikap dimana sabar adalah jembatan pengharapan yang tak berujung. Semoga jembatan itu selalu ada untukku bu.  :matabelo:

6 komentar untuk “Bu, Pernahkah Ibu Kehabisan Kata-kata ?”

  1. 🙁
    🙁
    🙁
    saya juga sering curhat sama ibu kalo lagi down, tapi kalo lagi seneng. malah saya sering lupa sama ibu..
    huaaaaa
    keinget dulu depresi berat ngejar revisian sidang yang gak kunjung kelar, pas telpun beliau bilang.
    “yang sabar, ikuti aja apa maunya, bapak ibu disini berdoa biar lancar semua.”
    Alhamdulillah setelah ngobrol pikiran jd tenang revisian beres sesuai waktu.

  2. terharu bacanya kang :’)

    saya juga pengen lebih sering menghubungi ibu, lewat telpon. terus terang saja, akhir-akhir ini saya terlalu sibuk dengan urusan duniawi yang semu..

    nice article, as always kang 🙂

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *