Persahabatan Beda Jenis

Persahabatan bukanlah sesuatu yang Anda pelajari di sekolah. Tapi jika Anda belum belajar arti persahabatan, Anda benar-benar tidak belajar apa-apa. – Muhammad Ali 

Pernah punya sahabat ?. Kalau jawabannya “Pernah !”, berarti itu bukan sahabat. Karena seharusnya sahabat tidak akan pernah menjadi ‘pernah’, tapi terus masih, masih, dan masih. Ia akan tetap menjadi sahabat, sekalipun telah tiada berpulang ke hadapan-Nya.

Sahabat tidak akan pernah menjadi mantan, sahabat tidak akan menjadi bekas. Tidak ada dalam nukilan sejarah, hadist, maupun kitab suci yang menyebutkan “Mantan Sahabat Rasulullah”. Itu artinya sahabat adalah sebuah hubungan yang abadi.

Jadi, saya tidak pernah punya sahabat !. Karena sahabat saya akan tetap ada. Dimana dia ?, di hati dan hidup saya.

Ada begitu banyak nilai dalam persahabatan. Membuatnya tidak mudah untuk memilah mana yang masuk ke dalam kategorinya, dan memilih mana yang harus dihindarinya.

Kehadiran seorang sahabat menghadirkan keindahan peran tersendiri, terutama di masa-masa sulit. Ketika orang lain tidak begitu peduli pada kondisi kita, tapi masih ada orang (yang bahkan di luar dugaan) rela membuka ruang hati dan pikirannya untuk kita tempati, tanpa kelak kita harus ‘membayar sewa’ kepadanya.

Indah rasanya ketika hidup disertai dengan adanya seorang sahabat. Saat rapuh kita punya tempat bersandar. Saat kuat, kita punya tempat berbagi sandaran.

Saya sering membayangkan, ketika kelak saya punya istri dan anak, di satu waktu saya punya kesempatan untuk membawa istri dan anak saya bermain ke tempat sahabat saya. Bercengkrama layaknya dua saudara. Tapi bayangan saya melayang agak sedikit melenceng, bagaimana jika sahabat saya itu berlawanan jenis dengan saya ?.

Ini mengingatkan saya kepada beberapa teman yang pernah bercerita bahwa mereka lebih senang bercerita tentang kehidupan mereka kepada sahabat lawan jenis, di banding kepada yang sesama jenis.

Benarkah demikian ?.

Bukankah itu cenderung tidak lebih dari sekedar berharap perhatian dan mendapatkan empati dari dia demi terjalinnya kedekatan yang sebetulnya berbeda dengan persahabatan ?. Semisal PeDeKaTe gitu untuk menjadi pacar ?.

Memiliki sahabat berlawanan jenis mungkin tidak masalah, tapi cerita hidup bisa menjadi getir ketika (misalnya) kita mendapatkan pasangan hidup yang tidak lebih baik dari sahabat kita yang berbeda jenis itu.

Masih mending kalau kita mampu menempatkan diri pada porsi yang berbeda antara untuk sahabat dan untuk suami atau untuk sahabat dan untuk istri, kalau tidak ?. Apalagi sahabat tidak pernah mengenal bekas, dan suami atau istri bisa saja ada bekasnya.

Kenapa sahabatnya tidak ‘dipatenkan’ saja menjadi suami atau istri ?.

Tidak sedikit yang jalan ceritanya menjadi demikian. Tapi banyak pula nilai-nilai persahabatan yang telah mereka jalin runtuh seketika, ketika rumah tangga mereka pun runtuh.

Bagi saya, persahabatan berbeda lawan jenis tidak akan berjalan dengan nyaman. Karena yang ada dalam skenario hidup kita bukan hanya “saya” dan “dia”. Tapi, banyak hati yang akan/sudah menjadi bagian dari hidup kita yang mau tidak-mau akan terlibat dalam rangkaian cerita hidup.

Bayangkan, ketika seorang pria mempunyai sahabat seorang wanita akan dihadapkan pada posisi yang tidak lagi nyaman ketika ingin berbagi cerita dengan sahabatnya tersebut karena harus menjaga perasaan suaminya.

Bayangkan, ketika seorang wanita mempunyai sahabat seorang pria akan dihadapkan pada posisi yang tidak lagi nyaman ketika ingin berbagi cerita dengan sahabatnya yang berjenis kelamin pria karena harus menjaga perasaan istrinya.

Ketika kita berbagi cerita sedih dengan seorang sahabat yang berbeda jenis, apakah bisa kita memeluknya ?. Bisa sih iya, tapi boleh belum tentu !.

Persahabatan beda jenis mungkin tidak masalah, tapi nilai-nilai persahabatan kita tidak bisa begitu intim, karena banyak hati yang harus dijaga, banyak batasan yang harus diperjelas.

Bahaya rasa persahabatan berubah menjadi suka di saat yang tidak tepat akan selalu mengintai. Sekalipun kita meyakinkan diri bahwa hubungan yang dijalin tidak lebih dari nilai persahabatan, tapi tidak ada jaminan kalau kita sanggup mencegahnya dari interaksi terlarang.

Dari dasar itulah, kemudian saya menjadi berpikir untuk menggariskan prinsip bahwa saya hanya mempunyai dua pilihan (keduanya bisa dipilih sekaligus). Pertama, menjalin persahabatan dengan orang yang sesama jenis. Kedua, menjadikan pasangan hidup saya sebagai sahabat.

Bukan saya tidak ingin menjadi sahabat lawan jenis, tapi saya hanya berusaha menjaga supaya tidak dihadapkan pada persoalan-persoalan yang saya sebutkan diatas. Paling tidak, kita tidak mencelupkan sesendok persoalan kedalam komposisi cerita hidup yang sedang dilalui. Biarlah kita menemukan keindahan di jalan kita masing-masing yang membuatnya tak merasa sungkan untuk kita saling salam sapa di kemudian kelak dengan teman berbeda lawan jenis.

Wallahu’alam

5 komentar untuk “Persahabatan Beda Jenis”

  1. Setuju gan..
    ane punya pengalaman pribadi jg.. dan yg nte tulis diatas bener bgt tuh..
    begitu prasaan ane kalo punya sahabat cewek.
    lebih baik punya sahabat sesama jenis & kalo beda jenis mending dijadiin istri aja..

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *