BearBrand

Kombinasi Masker dan Susu Beruang

Satu tahun lalu dan terus mundur ke belakang, tidak ada yang mencolok dari aktivitas bepergian saya. Sampai kemudian kebiasaan menjadi berubah semenjak saya tinggal di Bogor dan dalam beberapa kali sepekan harus bolak-balik ke Jakarta untuk menyerahkan report pekerjaan.

Bogor kota yang sejuk, ada kenyamanan dan keindahan dalam menikmati hidup. Wajar kalau kota ini dulunya dikenal dengan “Buitenzorg” yang berarti “Tanpa Kecemasan”.

Ternyata mulai ada yang janggal, oksigen dan udara segar yang luar biasa melimpah di kota ini lambat laun seperti terancam dengan identiknya julukan baru, yaitu sebagai “Kota Seribu Angkot”. Dimana macet,  asap dan udara kotor menjadi seperti dua sisi mata uang.

Belum lagi ketika harus berdesakan di dalam gerbong Commuter Line, dimana hidung kita dengan hidung orang lain dekatnya seperti tidak kurang dari 15 cm. Rasa khawatir akan penyebaran penyakit (tidak bermaksud suudhzon) kian terasa, apalagi bukan sebuah kabar yang baru jika area publik merupakan tempat yang rentan terhadap penyebaran berbagai penyakit.

Di kota yang sebetulnya lebih kaya oksigen ini (dibanding kota-kota lainnya di sekitar Jabodetabek), saya baru terpikirkan menggunakan masker saat bepergian. Entah ini tingkat kesadaran saya terhadap bahaya polusi yang mulai tumbuh atau memang rasa sesak karena udara kotor yang tiap kali terhisap menimbulkan sesak.

Awal menggunakan masker memang terasa tidak nyaman. Setiap kali melangkah berasa mulut dan hidung sedang dibekap. Antara sugesti dan adaptasi, situasi menjadi terbalik ketika saya tidak mengenakannya, menjadi tidak nyaman dan dihantui kekhawatiran.

Alhamdulillah, sampai sekarang masih konsisten menggunakan masker saat akan bepergian menggunakan angkutan umum. Walau kadang sebelum pergi harus disibukan dulu dengan mencari (membeli) masker cadangan.

Kali ini Tampaknya tingkat kesadaran saya terhadap bahaya polusi memang semakin tumbuh. Tiba-tiba muncul dalam benak pikiran saya “apa iya masker benar-benar efektif melindungi tubuh kita dari bahaya polusi ?”.

Sudah bisa ditebak, untuk mencari jawabannya saya langsung tanya ke ‘paman’Google !.

Benar saja, sebagaimana saya kutip dari Helath Kompas (Jumat, 29 Juni 2012),

Menurut dr. Agus Dwi Susanto, Sp.P, Ketua Divisi Paru Kerja dan Lingkungan Departemen Pulmunologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi FKUI, Rumah Sakit Persahabatan, meski penggunaan masker tidak bisa memproteksi sepenuhnya paparan polusi, tetapi penggunaan maker bisa memperkecil risiko terjadinya terkena infeksi saluran pernapasan akut.

Masker yang terstandar sekalipun masih punya kekurangan karena tidak bisa memproteksi gas yang masuk. Oleh karenanya pajanan seperti CO (Karbon Monoksida) dan NO (Nitrogen Monoksida) masih tetap bisa tembus sekalipun memakai masker N95.”

Ternyata memang benar, surgical mask yang selama ini sering saya pakai baru sebatas meminimalisir bahaya polusi semisal Insfeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Dari situ saya mulai berpikir cara lain untuk dikombinasikan dengan kebiasaan menggunakan masker. Ketika bertanya ke banyak teman, rekomendasi mengkonsumsi aneka suplemenpun macam-macam, mulai dari berbagai tawaran mengkonsumi produk MLM sampai dengan saran minum jamu setiap pagi.

Rata-rata sih yang mereka tawarkan saya percayai mengandung khasiat, tapi percaya saja dan belum srek dengan hati kan susah juga. Apalagi dalam dunia medis sugesti itu penting.

Ide mengarahkan saya untuk minum susu. Meski dari umur 2 tahun sampai 8 tahun saya masih diberi minum susu oleh orang tua, nyatanya pada usia dewasa perut saya sering merasa tidak nyaman setelah minum susu, kontan suka langsung mules-mules. Entahlah kenapa bisa demikian, lebih parahnya lagi tidak pernah berkonsultasi ke dokter.

Meski demikian, dorongan kembali mengonsumsi susu untuk melawan ancaman polusi rasanya lebih kuat dibanding mengkonsumsi zat suplemen lain. Apalagi semenjak balik lagi tinggal di Tangerang yang identik dengan julukan “Kota 1001 Industri” (lebih horor dari “Kota 1001 Angkot”).

Ketika bercerita tentang ini kepada seorang teman, dia bilang “ya lo coba aja pilih, antara susu murni dan susu olahan. Nah, mana tuh yang sekiranya enak diperut lo !. Sukur-sukur lo juga tau mana yang lebih punya khasiat buat daya tahan tubuh lo”.

Hah, susu murni ?. Bayangan yang muncul adalah soal steril gak’ steril-nya itu susu.

Et dah, kalau bicara susu murni ya jangan lo bayangin langsung nete dari sapi-nya bro !. Lo bayangin minum Susu Beruang dari kemasan kaleng yang tebalnya melebihi minuman bersoda !”. Timpal teman saya.

 BearBrand

Owah iya ya !. Berasa katrok aja gitu rasanya kalau pikiran saya gak’ keingetan sama Susu Beruang, alias Bear Brand.

Uniknya memang (entah ini cuma saya atau orang lainpun demikian) perut tidak mulas-mulas kalau habis minum susu yang satu ini. Well, ini benar-benar cara praktis untuk detoxifikasi.

Detoxifikasi itu sendiri merupakan sebuah proses penghilangan racun atau toxin dari dalam tubuh. Proses ini biasanya tidak berlangsung lama jika kita secara rutin atau terus-menerus mengkonsumi zat-zat yang memang terbukti mampu mendetoxifikasi tubuh kita.

Kelebihan tanpa kekurangan sepertinya kurang lengkap. Kekurangan dari Susu Murni “Bear Brand” saya kira adalah soal kemasan. Masih rada susah buat menemukan Bear Brand dalam ukuran besar, semisal 500 ml atau 1000 ml. Mudah-mudahan kedepan nya bisa diperbanyak juga Bear Brand dalam kemasan jumbo.

Kombinasi dua kebiasaan dalam menghadapi lingkungan hidup yang semakin jauh dari kata sehat ini adalah cara yang saya lakukan. Diminimalisir dengan masker, dan dicegah + sapu bersih dengan BearBrand. Bagaimana dengan cara Anda ?

2 komentar untuk “Kombinasi Masker dan Susu Beruang”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *