Menghidupkan Keinginan Menjadi Kenyataan

Ada orang-orang yang ingin berubah dan ada yang benar-benar berubah.

Ada orang-orang yang ingin bisa menerima kenyataan hidup dan ada yang benar-benar menerima segala kenyataan dalam hidup.

Ada orang-orang yang ingin mencintai sepenuhnya dan ada yang benar-benar mencintai sepenuhnya.

Ada orang-orang yang ingin mendengarkan jiwa mereka dan ada yang benar-benar mendengarkan jiwa mereka.

Ada orang yang sekedar menginginkannya dan ada yang benar-benar melakukannya.

Menginginkan memberi arti bahwa saya belum pernah benar-benar memiliki. Menginginkan bisa juga berarti bahwa Saya atau Anda bisa merasa buruk tentang diri sendiri dan kehidupan kita karena kita tidak pernah benar-benar menjadi atau melakukan, atau memiliki, atau mewujudkan apa yang diinginkan.

Ada satu pergeseran kecil antara menginginkan sesuatu dan benar-benar memilikinya. yaitu keputusan !. Saya harus mengambil sebuah pilihan. Singkatnya antara “Ya” atau “Tidak”.

Berbicara tentang keinginan, kita semua tahu bahwa itu tidak bisa benar-benar mengantarkan diri kita jadi memiliki.

Saya harus “Do” tentang hal itu. Mengambil tindakan. Membuat pilihan. Mengambil langkah maju. Kemudian bertanggungjawab (setidaknya) kepada diri sendiri atas setiap langkah yang sudah diambil.

Saya harus mengambil keputusan atau hanya selalu ada di sisi keinginan yang 99% tidak akan jadi kenyataan.

Masih berbicara tentang keinginan. Keinginan yang diraih memang tidak bisa memberi jaminan akan membuat Saya atau Anda menuju kebahagiaan, kan ?

Saya harus membuat keputusan sadar agar tetap fokus pada rasa syukur dan apa yang sedang dikerjakan. Di sisi yang lain, saya juga harus mengambil langkah-langkah sederhana agar tetap memiliki waktu dengan orang-orang yang mengisi hidup saya dan orang-orang yang selalu mendukung serta mencintai Saya.

Saya harus melihat jauh di dalam jiwa Saya dan mencari tahu apa yang membuat Saya bahagia. Kemudian mengambil langkah untuk menyelaraskan kehidupan eksternal dengan hasrat internal. Sekali lagi, saya harus mengambil tindakan jika ingin merasa lebih bahagia.

Merasakan Cinta

Inipun sama, berbicara tentang keinginan tidak bisa benar-benar membuat setiap perasaan cinta jadi lebih dekat, kan ?

Saya, atau mungkin Anda harus membuka hati. Meruntuhkan ‘dinding’ dan membiarkan orang lain masuk kemudian memberi naluri kita kesempatan untuk belajar mencintai orang lain. Cari tahu mengapa hati kita tertutup dan mulai untuk menyembuhkan dari diri sendiri.

Menginginkan sesuatu adalah langkah pertama. Ternyata ini membantu kita untuk menyadari keinginan dan desakan jiwa. Tapi itu hanya langkah pertama, begitu banyak dari kita yang ‘mati kutu’ di langkah pertama ini hingga sebagian besar hidupnya habis disini tanpa pernah beranjak ke langkah selanutnya.

Tidak sedikit juga, yang pada akhirnya ‘si langkah pertama’ ini membuat orang-orang menyerah dan payah untuk mengambil satu keputusan usaha dan lebih memilih jalan pintas tanpa memikirkan resiko panjang yang akan terjadi.

Kalau memang tidak pernah sanggup untuk melakukan ‘Do’, mengambil keputusan ‘ya’ untuk memperjuangkannya. Maka tidak perlu mempunyai keinginan dan selamat ‘gigit jari’.

Satu lagi yang tidak boleh Saya lupa, keinginan itu faktor internal. Untuk mewujudkannya Saya tidak boleh mengabaikan faktor eksternal, faktor yang bukan untuk dimanfaatkan, tapi harus menjadi partner dalam mewujudkannya kemudian menikmatinya bersama-sama.

Fedatured image by. Funny-Leo (berlisensi Creative Commons : BY-NC-SA)

1 komentar untuk “Menghidupkan Keinginan Menjadi Kenyataan”

  1. …pentingnya membedakan antara keinginan dan kebutuhan…keinginan lebih pada dorongan yg tidak harus memertimbangkan realita dan kapasitas pribadi…kebutuhan berbeda yakni sudah memertimbangkan kapasitas dan realita yg dihadapi…ada kebutuhan yg dirasakan dan ada kebutuhan yg tidak dirasakan…ada kebutuhan dasar dan ada kebutuhan primer dan sekunder dst…

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top