Bangkit Sebelum Sempit

Ada satu pepatah yang mengatakan : “Saat posisi tersudutkan, pagar yang tinggipun terlompati, tapi itu setelah kita mampu memilih diantara dua pilihan ; putus asa atau optimis”.

Pepatah itu menggambarkan sebuah kondisi dalam situasi terjepit, seringkali kita bisa berusaha lebih maksimal. Dalam kondisi yang santai, belum tentu pagar yang tinggi bisa kita lompati, dan dalam kondisi yang yang tersudutkan bukan sesuatu yang mustahil pagar tersebut bisa dilompati.

Contoh yang lain misalnya begini :

Saat dalam kondisi lapar, pasti kita akan berusaha sebisa mungkin untuk mencari makanan. Titik tersulitnya, demi bertahan hidup apapun dimakan. Tapi anehnya, saat dalam kondisi kenyang ada yang malah sibuk berleha-leha. Seolah akan kenyang untuk selamanya.

Di ranah berbangsa juga tidak kalah bedanya. Banyak negara yang terlena dengan berdiri bukan diatas kaki sendiri. Mohon maaf, kita bisa mengambil pelajaran dari bangsa kita sendiri yang begitu terlena ketika sistem persenjataan bisa didapatkan dengan mudah dari Amerika Serikat, tapi begitu Indonesia di embargo, sesak napas seketika rasanya sistem persenjataan militer kita.

Kita juga bisa sejenak mengintip ke negeri Mullah, Iran. Bukan berarti harus mengadopsi sistem di sana, tapi ada satu pelajaran kasat mata -teori teknis di balik layar sulit kita ketahui- bagaimana negara tersebut berusaha tumbuh dan bangkit membangun teknologi pertahanannya secara mandiri ketika ia tidak bisa berharap banyak dari negara lain.

Haruskan kita menunggu sempit untuk bisa bangkit ?

Seorang bapak yang tetap bangkit dan terus berusaha dengan berjualan talas di Kota Bogor
Seorang bapak yang tetap bangkit dan terus berusaha dengan berjualan talas di Kota Bogor (Ilsutasi. Gambar berlisnesi Creative Commons Berartibusi Non-Comersial (CC-BY-NC) oleh Firdaus Usman)

Itu adalah satu pertanyaan sederhana ketika kita sering lalai dalam kondisi lapang. Betul memang, dalam kondisi sempit sekalipun sebetulnya banyak kesempatan yang masih bisa kita lihat, tapi kan semestinya dalam kondisi lapang dan merdeka kita harus bisa melihat lebih banyak lagi.

Salah satu cara yang terbaik adalah ketika kita membayangkan seolah-olah kita sedang dalam kesempitan. Hari ini mungkin stok makanan cukup untuk dua atau tiga hari kedepan, tapi kita bisa membayangkan “bagaimana kalau stok tersebut tiba-tiba ada yang mencuri “?.

Hari ini mungkin kita bisa dengan mudah mendapatkan bantuan logistik dari negara lain, tapi apa kita sanggup ketika tiba-tiba kita dibiarkan sendiri seperti diembargo itu ?.

Mengurangi dan Menghentikan Ketergantungan

Ketergantungan yang berlebihan dalam hal apapun tentu kurang baik. Karena itu sama halnya dengan membunuh potensi diri sendiri atau mengebiri kemampuan yang ada.

Kita bisa belajar dari Cina bagaimana mereka begitu fokus memperkuat negerinya dalam berbagi bidang. Uniknya mereka tidak segan-segan melarang produk luar masuk ke negaranya. Contoh sederhana semisal ; sanggupkah kita hidup menggunakan internet tanpa Google ?, rasanya jelas tidak akan sanggup. Tapi lain cerita ketika kita bertanya kepada orang-orang Cina yang sudah lebih mengenal Baidu ketimbang Google. Makanya tidak aneh, begitu se-isi bumi ramai SOPA/PIPA maka Cina cenderung adem-adem saja.

Kita memang tidak perlu menutup diri dari komunitas dunia, karena memang kita belum sunggup untuk ke arah sana. Tapi, untuk memulai menjadi bangsa yang punya karakter diperhitungan, jelas sudah saatnya untuk memulai kemandirian.

Bagaimanapun kita masih cenderung bangga sebagai “pengekor terbesar”, bukan satu komunal yang mampu menciptakan fasilitas yang membantu kebutuhan hidupnya sendiri. Tentu saja kita tidak terima jika disebut sebagai bukan bangsa yang besar, walau kadang malu rasanya andaikata harus menunjukan kebesaran bangsanya diluar konteks teritorial. Yang kadang hanya sebatas bisa dibanggakan tanpa ada jaminan keberlangsungan (minimal mempertahankan).

Mari kita tarik pelajaran bersama, rasanya untuk bangkit harus dimulai dari ke-tidak-tergantung-an. Niscaya, kita tidak perlu menunggu sempit untuk bangkit.

“Orang-orang hebat di bidang apapun bukan baru bekerja karena mereka terinspirasi, namun mereka menjadi terinspirasi karena mereka lebih suka bekerja. Mereka tidak menyia-nyiakan waktu untuk menunggu inspirasi.” – Ernest Newman

1 komentar untuk “Bangkit Sebelum Sempit”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *