Berurusan dengan Kesulitan dan Ujian Hidup

Kita semua pernah atau sedang menemukan berbagai kesulitan dalam hidup. Namun, tidak semua dari kita menanganinya dengan efektif. Strategi untuk melalui sebuah masalah hidup jarang dipelajari secara formal, kita terpaksa menggunakan trial and error sebagai metode solusinya, walau kadang melahirkan hasil yang tidak optimal.

Berurusan secara bijak dengan kesulitan dan masalah membutuhkan kontrol emosi yang tepat, penerimaan realita, memetakan sebuah tindakan, sampai akhirnya mengambil langkah-langkah preventif untuk menjaga masalah tidak terulang di waktu yang akan datang. Dengan demikian, mempersenjatai diri dengan strategi intelektual, mental, dan spiritual yang tepat untuk melewati fase-fase tersebut dapat membantu kita mencapai terobosan (yang diharapkan) berhasil.

Respon Emosional

Respon emosional terhadap kesulitan atau bencana adalah sesuatu yang normal bagi manusia. Namun, emosi harus dikelola dan disalurkan dengan tepat, kalau tidak, mereka dapat menimbulkan hal negatif dalam kepribadian kita dan mempengaruhi kehidupan kita secara umum. Penelitian juga menegaskan bahwa individu yang emosional-reaktif dalam menghadapi tantangan (sekalipun relatif kecil) dalam hidup mereka rentan terhadap masalah fisik dan menumbuhkan bibit penyakit.

Salah satu kecenderungan seseorang dalam menyalurkan emosi adalah bertindak di luar kendali diri dan tidak bertanggung jawab. Menumpahkannya di mana saja ia suka, tidak memikirkan dampaknya.

Dalam situasi seperti itu, Nabi (saw) memerintahkan kita untuk melatih kesabaran dan mempertahankan sikap keteguhan hati. Ketika anaknya, Ibrahim, sedang sekarat, mata nabi dipenuhi dengan air mata. Melihat Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam menangis, Abdul Rahman bin Auf bertanya: “Wahai Rasulullah mengapa engkau menangis ? Bukankah engkau telah melarang menangis?” Beliau menjawab : “Wahai Ibnu Auf, sesungguhnya tangisan itu adalah rahmat, dan barangsiapa tidak memiliki kasih sayang maka ia tidak mendapatkan kasih sayang”, kemudian beliau bersabda lagi: “Sesungguhnya mata bisa berlinang, hati juga bisa berduka namun kita hanya bisa mengucapkan yang diridhai Rabb kita. Wahai Ibrahim, sungguh kami sangat bermuram durja kerana berpisah denganmu.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Dalam kasus lain, emosi yang disalurkan membabi buta, yang kemudian mengarah pada pengembangan pola pikir negatif. Kita mungkin tidak menyadarinya. Yang ada adalah membebani dan mencegah kita dari bergerak maju.

Mencoba untuk Memahami Kesulitan

Keputusan Ilahi: Ketika menghadapi kesulitan, iman yang lemah kadang-kadang dapat mendorong kita untuk mempertanyakan keadilan Sang Maha Adil. Dalam konteks ini, kita harus mengingatkan diri kita bahwa percaya al-Qadr (kehendak dan keputusan Allah) merupakan salah satu pilar dari iman Islam.

Sebagai seorang muslim kita mempercayaI rukun iman yang terdiri dari percaya kepada ; 1) Allah, 2) Malaikat, 3) Kitab Suci (Quran, Injil, Taurat, Zabur), 4) Rasul-Nya, 5) Hari kiamat, dan 6) Qada dan Qadr (keputusan ilahi, baik dan buruk). Allah juga berfirman dalam Al Qur’an, “Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”[Al-Hadeed 57:22].

Sebagai bagian dari keyakinan, kita harus mengakui bahwa Allah melakukan apa yang Dia kehendaki untuk alasan yang hanya diketahui oleh-Nya. Jangan paksakan pikiran kita yang terbatas untuk mengukur kemampuan-nya yang tak terbatas, karena beresiko membawa kita ke kesimpulan yang salah.

Jebakan ‘Jika’ : perangkap lain yang mengakibatkan banyak dari kita jatuh ke dalam kesimpulan yang salah adalah terjebak dalam pemahaman logika ‘jika’. Pikiran memberitahu kita bahwa “jika saya bisa melakukan ini dan itu, maka ini tidak akan terjadi.”

Nabi memperingkatkan kita agar tidak jatuh ke dalam perangkap setan tersebut. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Nabi berkata :

[quote]

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah. Akan tetapi, keduanya tetaplah memiliki kebaikan. Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, dan jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan, ‘Seandainya aku berbuat demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah engkau berkata: ‘Ini sudah menjadi takdir Allah. Setiap apa yang Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan “lau” (seandainya) dapat membuka pintu setan.” (HR. Muslim no.2664, di dalam kitab Al-Qadar)

[/quote]

Kita bisa melihat contoh lain dari ini, yaitu peristiwa Perang Uhud dimana umat Islam banyak yang meninggal. Ini memberikan orang-orang munafik alasan untuk mengkritik keputusan ilahi. Tetapi Allah membantah klaim mereka dengan firman-Nya : “Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.”. [Al-Imran 3:154].

Ini semakin menunjukkan bahwa ‘dekrit’ Allah tidak bisa dihindari. Setiap usaha untuk membayangkan hasil yang berbeda berdasarkan pada tindakan yang berbeda di masa lalu hanya akan meningkatkan rasa frustrasi.

Dalam konteks ini, banyak juga di antara kita yang lebih agresif untuk menyalahkan orang, termasuk orang-orang terdekat. Sikap ‘menyalahkan’ pada gilirannya hanya akan memelihara situasi di mana orang (bahkan dalam keluarga) menolak untuk merekomendasikan sesuatu atau terlibat dalam dialog terbuka dengan kita. Hal ini tidak hanya melemahkan komunikasi antara kita dengan mereka, tapi juga menyebabkan perpecahan yang sulit untuk diperbaiki serta hilangnya kepercayaan.

[box type=”info”]

Ringkasnya, menerima keputusan Ilahi dapat membantu kita tidak hanya dalam ‘move on‘, tapi juga mendapatkan kasih sayang Allah. Menyingkirkan kebiasaan kita menyalahkan orang lain dengan mempertahankan pola pikir positif dapat membantu kita mempertahankan hubungan yang sehat dan juga menjaga ‘benteng’ sandaran (saat kita rapuh) tetap berdiri kokoh.

[/box]

Tindakan Pencegahan

Akhirnya, meskipun keputusan Allah ditahbiskan, ada hal-hal yang dapat kita lakukan terlebih dahulu untuk mempengaruhi hasil dari upaya kita. Pertama, kita tidak boleh lupa bahwa Allah telah memberikan kita ruang untuk berpikir dan bertindak. Di satu sisi kita percaya sepenuhnya kepada Allah, tapi disisi lain kita tetap berusaha. Analoginya, beri Dia alasan yang kuat (dengan usaha dan do’a) mengapa kita layak mendapatkan hasil yang terbaik.

Kedua, untuk kasus di mana kita meraba-raba dalam menentukan pilihan, kita harus kembali ke cara yang mudah dan memudahkan dalam menentukan pilihan, yaitu Istiqarah. Do’a yang disampaikan dengan jelas dan spesifik mencerminkan permohonan kepada Allah untuk membuat keputusan yang diinginkan oleh kita, dan itu baik bagi kita. Dengan demikian, kita benar-benar menempatkan iman kepada-Nya untuk membimbing kita. Ini akan mengurangi kemungkinan berakhir dengan hasil yang gagal dan sekaligus meminimalisir beban persoalan tambahan di waktu yang akan datang.

Wallahu’alam

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *