Mengubah Cara Berpikir, Menjadi Simbol Ketidakterjajahan

Jam di handphone sudah menunjukan angka 09.23, itu artinya saya sudah telat 23 menit untuk sampai di Menara MTH Jakarta, sementara saat itu saya masih berada di Halte Busway Fly Over Raya Bogor yang ada di Pasar Rebo. Ditambah dengan kemacetan yang luar biasa dan harus transit di Halte BKN (pindah ke koridor 9) ini berarti saya akan lebih telat lagi.

Sempat berpikir untuk mengurungkan niat hari itu yang sudah cukup terlambat meski berangkat dari rumah jam setengah enam pagi. Namun, akal sehat tampaknya masih bekerja dengan baik untuk tidak menggugurkan rencana hari itu.

Kurang dari jam 10, saya sudah sampai di Menara MTH. Empat orang rekan sudah menunggu di dalam mobil untuk langsung berangkat begitu saya tiba di Menara MTH. Ya, hari itu dengan sangat antusias, menyisihkan waktu yang sama sekali tidak boleh diganggu, saya akan meluncur bersama tim dari PT Dahana menuju ke Kantor Manajemen Pusat Dahana yang mereka singkat KAMPUS DAHANA di ujung timur Kabupaten Subang.

Inti acara pada hari itu adalah PT Dahana melalui Humasnya yang dinahkodai Pak Jajuli akan mengadakan ulang tahun D-File, yaitu sebuah majalah internal perusahaan. Sebagai bagian dari isi acara, mereka bermaksud mengundang blogger untuk gathering & sharing seputar ngeblog, lebih khusus lagi menulis.

Sesampainya di sana, saya dan seorang teman dari Blogger Bogor, yaitu Hendra, langsung dibuat takjub oleh perusahaan ini.

Sebagai perusahaan BUMN yang mempunyai kompetensi di bidang riset dan produksi bahan berenergi tinggi, atau simpelnya bisa kita sebut bahan peledak, perusahaan ini menempati area seluas 600 hektar.

Masuk ke area ini, seolah saya sedang memasuki Area 51 versi Indonesia. Padahal ke Area 51 nya Amerika juga belum pernah.

Kantor Manajemen Pusat PT Dahana, sebuah bangunan yang futuristik, ramah lingkungan, dan satu bagian kecil daru luas area sebesar 600 hektar
Kantor Manajemen Pusat PT Dahana, sebuah bangunan yang futuristik, ramah lingkungan, dan satu bagian kecil (walau bangunan ini sendiri sebetulnya luas) dari luas area sebesar 600 hektar. (Sumber gambar bumn.go.id)

Area Kampus Dahana tidak sembarangan bisa diakses memang. Mengingat potensi yang ada di perusahaan sangat berkaitan erat dengan masalah keamanan.

Memasuki gedung manajemen yang memiliki desain futuristik, ramah lingkungan, dengan atapnya berupa rumput, mirip seperti rumah Teletubies, saya sempat berdecak tidak percaya ada tempat seperti ini di Indonesia, terlebih lagi di Kabupaten Subang.

Ketidakpercayaan saya ini kemudian menjadi terbuka lebar, ketika di luar dugaan saya dan teman-teman dari Komunitas Blogger Subang berkesempatan untuk bertemu, beramah tamah, dan dialog yang (sangat) terbuka dengan CEO Dahana secara langsung, yaitu bapak Harry Sampurno.

Saya sebagai orang biasa dari desa yang tiba-tiba datang ke sebuah Perusahaan BUMN kelas dunia dan bertemu langsung dengan CEO-nya hampir saja tertekan di posisi minder. Ternyata, yang terjadi adalah sebaliknya.

Tanpa segan apalagi jaim, Pak Harry berkeliling dan bersalaman dengan kami satu persatu, dengan senyum ramah beliau perkenalkan diri. Saya baru sadar, bahwa pada satat itu sang CEO bukan hanya mampu menjaga kualitas kepercayaan dirinya, tapi juga mampu menumbuhkan rasa percaya diri pada orang lain. Bukan lagi kepada bawahannya, tapi kepada kami yang pada saat itu menjadi tamunya. Suasana benar-benar sangat cair.

Obrolanpun dimulai, dengan suasana santai penuh canda membuat kami para blogger yang biasanya (semestinya) cenderung terbuka tanpa segan menyampaikan saran dan masukan untuk PT Dahana, khususnya dalam memaksimalkan potensi blog dan sosial media lainnya.

Salah satu yang menarik adalah ketika beliau bertanya “siapa yang menggunakan BlackBerry ?”. Beberapa dari kami tunjuk tangan. “Kenapa pakai BlackBerry ?”, satu persatu menyampaikan pendapatnya. Kemudian berganti lagi “siapa yang menggunakan Android ?”, lagi-lagi beberapa dari kami tunjuk tangan dan dilanjut beserta alasannya. Yang ketiga adalah “siapa yang pakai iPhone ?”, dan ruanganpun hening. Yah, karena memang tidak ada satupun yang pakai iPhone.

Point terpenting pada saat itu adalah bahwa segala sesuatunya kadang berdasarkan atau disesuaikan dengan kebutuhan.

Sedikit melenceng, obrolan mengarah kepada seringnya BlackBerry nge-hank ketika menerim email dalam jumlah banyak. Meski sudah begitu penggunanya tidak bisa berbuat banyak selain pasrah, mengingat sudah ada ketergantungan kuat terhadap BlackBerry Masangaer (BBM). Jika melepaskannya berarti sama artinya dengan memutus jaringan bisnis.

Dari peristiwa ini, saya hanya bisa mengambil pelajaran bahwa eloknya kita tidak terlalu menggantungkan diri terhadap sesuatu. Karena akan ada saat dimana kita merasa begitu kesulitan untuk lepas landas dari sebuah ketergantungan. Yang jadi celaka adalah ketika yang menjadi tempat kita bergantung itu malah pergi meninggalkan kita.

[quote]Jangan percaya sepenuhnya kepada alat, akan ada saat dimana mereka juga berbohong.[/quote]

Mengaitkan antara ‘ketergantungan’ dengan ‘Dahana’, selidik punya selidik ternyata sangat erat kaitannya.

Dahana, sebagai sebuah perusahaan yang (seharusnya) menjadi kebanggaan kita bersama adalah bukti bahwa bangsa Indonesia sudah mampu meriset dan memproduksi bahan-bahan berenergi tinggi, baik itu untuk keperluan militer ataupun komersil. Ini tentu sebuah awal yang baik agar Indonesia menjadi lebih mandiri.

Tapi sayang, ternyata masih ada beberapa perusahaan pertambangan di Indonesia yang menggantungkan kebutuhan bahan peledaknya ke perusahaan-perusahaan asing.

Entah mereka tidak tahu bahwa Indonesia mempunyai perusahaan bahan berenergi tinggi kelas dunia, atau mungkin mereka tidak yakin dengan kualitas yang dihasilkan oleh kemampuan SDM Indonesia. Kalau jawabannya tidak yakin, berarti benar bahwa cara berpikir atau mindset kita yang harus diubah. Sama seperti mindset saya di atas (harus diubah juga) yang merasa tidak percaya bahwa di Indonesia (bahkan di Subang) ada perusahaan seperti PT Dahana, yang menerapkan standar kerja tinggi, sangat disipilin, terukur, dan pengawasan yang ketat. Prinsip Dahana yang disampaikan oleh sang CEO-pun tidak tanggung-tanggung ; “Dahana adalah simbol ketidakterjajahan”.

Ini seperti angin segar rasa kebanggaan dan kebangsaan, ketika rasanya hampir tidak ada perusahaan Indonesia (khususnya BUMN) yang tidak terjajah.

Mirisnya adalah terjajah karena cara berpikir kita yang salah. Cara berpikir yang belum mengarah bagaimana menjadi masyarakat yang percaya diri baik itu ketika sebagai ‘pemain’ ataupun ‘suporter‘. Yakin bahwa setiap hasil yang diperoleh adalah untuk kemajuan bangsa. Sadar bahwa tidak sedikit kemajuan negara lain disokong oleh kemampuan Indonesia. Yakin bahwa bangsa kita sebetulnya mampu.

Rasionalitas saya kemudian mengatakan : “Jika saya sebagai orang Indonesia merasa tidak mampu, maka jangan menganggap bahwa orang Indonesia yang lainnya tidak ada yang mampu. Tapi jika saya sebagai orang Indonesia merasa mampu, maka anggaplah semua orang Indonesiapun mampu.”

2 komentar untuk “Mengubah Cara Berpikir, Menjadi Simbol Ketidakterjajahan”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *