Rindu Berkejaran dengan Takbir

[dropcap style=”font-size: 65px; color: #000000;”]T[/dropcap]ak’ terlupakan rasanya, saat beberapa tahun lalu saya harus menempuh perjalanan mudik hingga 25 jam untuk jarak Tangerang – Subang yang biasanya hanya cukup dengan 3 jam.

Mungkin itu belum seberapa jika dibandingkan dengan perjalanan mudik orang lain yang bisa sampai 3 – 4 hari dengan menggunakan kapal laut.

Bagi saya, saat itu adalah saat-saat yang menegangkan dan mengkhawatirkan, pasalnya saya berangkat pulang kampung di hari puasa terakhir. Mau tidak mau saat itu saya melewatkan takbiran di perjalanan bersama penumpang bus lainnya.

Sesekali handphone berdering, panggilan dari ibu dan bapak yang mengkhawatirkan keadaan anaknya. Antara tangis dan rindu rasanya ingin segera pecah. Pecah memuncahkan berjuta permohonan maaf dan ampunan atas segala salah dan dosa.

rindu berkejaran dengan takbir
Suasana kemacetan pada saat mudik (doc. pribadi)

Berkali-kali ibu dan bapak menanyakan saya sudah sampai dimana. Ini mengingatkan saya kembali pada masa-masa kecil dulu. Jika waktu kecil dulu saya yang terus bertanya kepada Ibu “Bu, bapak sudah sampai dimana ?” setiap menantikan bapak pulang dari Jakarta menjelang hari lebaran, kini ganti ibu dan bapak yang bertanya “kamu sudah sampai dimana nak ?”. Satu perbalikan posisi yang tetap tersimpulkan oleh ikatan kasih sayang.

Momen menyambut lebaran bersama orang tua selalu memberikan kesan indah sepanjang masa. Dulu saya tidak pernah merasa bahwa itu begitu indah, sampai setelah saya harus merasakan lebaran tanpa bisa berkumpul bersama orang tua barulah saya tahu bahwa lebaran sendirian itu sedihnya luar biasa.

Sekarang bapak sudah tiada menghadap Allah SWT, saya semakin sadar bahwa ketika sedihnya seorang anak menyambut lebaran tanpa orang tua, pasti akan terasa lebih sedih lagi ketika seorang ibu harus menyambut lebaran tanpa anak-anaknya.

Momen Indah Menyambut Lebaran

Setiap orang pasti punya momen indah sendiri ketika berlebaran dengan orang tuanya, Anda pun bisa berbagi ceritanya masing-masing. Tapi kali ini, saya inigin berbagi momen indah yang dirasakan oleh orang tua ketika menikmati hari raya bersama anak-anaknya.

Satu Tahun Dibayar Satu Hari

Tidak sedikit orang tua yang tidak bisa bertemu dengan anaknya. Jangankan setiap hari, setiap minggu, setiap bulan, bahkan setengah tahun sekalipun belum tentu bisa.

Dari kecil kita memupuk salah kepada orang tua, tapi ketika kita menjadi dewasa – tiba saatnya untuk menghapus kesalahan- dan orang tua semakin renta banyak dari kita yang memilih untuk meninggalkannya. Entah itu karena pekerjaan atau karena pendamping hidup. Seperti lupa kalau selama ini kita telah banyak menggoreskan keretakan pada kepingan hati orang tua.

Kita bisa membayangkan, ketika telah tiba waktu mengabdi kita memilih pergi, tapi orang tua kita tidak merasa benci.

Lebaran adalah saat yang paling dinantikan oleh mereka, seperti hari penebusan rindu satu tahun, saat indah melihat perkembangan anak dan cucunya yang tidak bisa ditatap setiap waktu.

Mencuci Kaki Orang Tua dan Sungkeman

Tidak sedikit yang merasa malu untuk melakukan hal ini, padahal ini adalah satu tradisi yang mampu memberikan spirit mental kita untuk memposisikan orang tua di atas kemuliaan.

Yakinlah, bahwa ketika kita melakukan ini kepada orang tua, mereka akan merasa bahagia. Bukan bahagia karena kakinya ada yang mencucikan, tapi mereka akan merasakan satu sentuhan cinta yang luar biasa dari buah hatinya. Meski itu sejatinya tidak akan pernah sanggup mengimbangi ketulusan mereka yang telah jutaan kali mencuci kaki kita.

Inilah sebetulnya saat dimana pintu maaf dari orang tua kita terbuka begitu lebar. Salah satu momentum penting dari rangkaian perjuangan di bulan Ramadhan. Yakin kita akan menyia-nyiakan puncak dari nikmat HIKMAH PUASA di hari kemenangan tanpa mau meneguk maaf dan ampunan sebanyak-banyaknya dari orang tua  ? sementara di lebaran yang akan datang belum tentu kita bisa kembali dipertemukan.

Membelikan Pakaian

Jangan salah, ini bukan soal materinya. Ribuan helai benang pada kain tidak akan mampu membayar ribuan kasih sayang orang tua kita. Pada momen ini, sanubari mereka akan melihat kita penuh syukur kepada yang Maha Kuasa bahwa anaknya kini sudah tumbuh dewasa dan mampu berikhtiar. Ingat kawan, orang tua kita melihat perjuangan bagaimana cara kita membelikan pakaian tersebut bukan sekedar melihat apa yang kita berikan.

Sebagai catatan, mereka memang tidak peduli itu bagus atau tidak, lebaran pakai baju baru atau tidak, lagi ngetrend atau sudah ketinggalan zaman. Tapi sudah sepatutnya kita memberikan yang membuat orang tua kita pantas dan berwibawa ketika mengenakannya.

-oOo-

Ada satu tambahan yang begitu menyentuh perasaan saya ketika bertanya kepada seorang ibu tentang apa yang paling membuatnya merasa bahagia di hari lebaran. Sang ibu menjawab “ketika aku digendong oleh anakku untuk shalat Ied, tanpa merasa malu ia menggendongku sampai ke masjid. Saat itu, semua mata tertuju padaku dan juga anakku”.

Selesai shalat Ied, orang-orang tidak hanya menyalamiku untuk bermaaf-maafan, tapi juga memelukku. Puncak kebahagiaanku begitu terasa saat ada seorang ibu yang memelukku sambil berbisik “bu, aku bangga sama anak ibu, semoga aku juga bisamendapatkan kasihsayang daria nakku seperti ibu dari anak ibu”.

Hari raya Idul Fitri tinggal menghitung hari, sudahkah kita memastikan diri untuk memberikan kebahagian dan keindahan kepada orang tua kita di hari raya ?. Mari kita pastikan bahwa tetesan air mata mereka dalam menyambut hari raya adalah tangis kebahagiaan, bukan kesedihan.

1 komentar untuk “Rindu Berkejaran dengan Takbir”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *