Di Antara Berlian dan Air

Sebelum membaca tulisan ini secara keseluruhan, saya ingin bertanya terlebih dahulu kepada Anda dan saya harap Anda langsung memberikan jawaban secara capat seolah sedang ditanya oleh Deddy Corbuzier di acara Hitam Putih, tanpa membaca tulisan ini sampai selesai dulu. Pertanyaannya sederhana :

Berlian atau Air ?

Bukannya langsung memutuskan pilihan, bisa jadi jawaban yang muncul dalam benak pikiran justru kata “tergantung !”. Ya, itulah relatifitas.

Dalam An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations, Adam Smith menjelaskan teori tentang “Nilai”, dimana menurutnya nilai itu terbagi dua, yaitu “Nilai Guna” dan “Nilai Tukar”.

Kata NILAI memiliki dua arti yang berbeda, dan kadang menjelaskan kegunaan suatu benda, dan kadang menjelaskan kekuatan membeli barang lain yang dimiliki oleh kepemilikan barang tersebut. Penjelasan pertama bisa disebut “nilai guna”; satu lagi “nilai tukar”. Hal-hal yang memiliki nilai guna terbesar memiliki nilai tukar yang sedikit atau tidak ada sama sekali; sebaliknya, hal-hal yang memiliki nilai tukar terbesar memiliki nilai guna yang sedikit atau tidak ada sama sekali. Tidak ada yang lebih berguna daripada air: tetapi air tidak bisa membeli segalanya; tidak ada yang bisa ditukarkan dengan air. Berlian, sebaliknya, tidak memiliki nilai guna; tetapi banyak sekali barang lain yang bisa ditukarkan dengannya.

Kemudian Smith juga menjelaskan bahwa nilai tukar ditentukan oleh kerja keras:

Nilai sejati dari segalanya, apa yang benar-benar membuat manusia mau berkorban untuk mendapatkannya, adalah kerja keras dan kesulitan dalam mendapatkannya.

Teori-teori Smith ini – kemudian dikenal dengan istilah Paradoks Nilai – dianggap tidak populer lagi ditengah-tengah ekonomi arus utama mengingat zaman sudah berubah dan teori baru bermunculan sebagai dampak analisa dari perkembangan situasi yang tidak ditemukan di era Adam Smith, salah satunya adalah teori Kegunaan Marjinal. 

Teori Kegunaan Marjinal didasarkan pada teori nilai subjektif, dimana harga ditentukan oleh kegunaan marjinalnya. Kegunaan marjinal suatu barang berasal dari manfaatnya yang paling penting bagi seseorang.

Terlepas dari perkembangan teori-teori tersebut, mari kita kembali ke pertanyaan awal diatas, yaitu “pilih berlian atau air ?”. Di antara keparadoks-an berlian dan air ada satu hal yang membuatnya bisa memiliki nilai yang lebih mahal satu sama lain, yaitu kelangkaan.

Posisi langka saat ini dipegang oleh berlian, berbanding terbalik dengan air. Lalu apa jadinya jika posisi tersebut ditukar, air menjadi langka dan berlian berhamburan laksana air di lautan ?, tentu saja air akan memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding berlian (secara nilai guna, air memang lebih tinggi). Contoh yang paling sederhana adalah ketika Anda terdampar di padang pasir mana yang akan Anda pilih, air atau berlian ?.

Disini, saya melihat ada dua hal yang membuat air bisa menjadi lebih berharga dibanding berlian, yaitu nilai guna dan kelangkaan (volume). Saya tidak tahu – butuh analisa lebih dalam lagi – apakah sudut penglihatan saya ini benar atau tidak. Seolah ini menjadi hikmah yang saya paksakan, saya ingin menariknya ke sifat dan kepribadian kita.

Andai kata nilai guna dan kelangkaan tersebut ada pada diri kita, apa yang akan terjadi ?

Mungkin itu yang disebut istimewa, antara manusia laksana berlian atau manusia laksana oase di padang pasir. Mau jadi laksana berlian atau ibarat oase di padang pasir, keduanya sama-sama berharga karena kelangkaannya. Siapkah menjadi manusia yang langka ?, hahahahaaaa… bayangannya bisa jadi “manusia yang aneh”.

Faktanya memang demikian, manusia-manusia hebat di muka bumi ini  pada mulanya sering dianggap aneh, nyeleneh, dan punya cara berpikir yang nyaris tidak nyambung dengan orang lain. Dalam satu detik ia melahirkan gagasan kadang baru bisa dimengerti beberapa jam / hari kemudian oleh orang lain.

Sekarang, tinggal gimana caranya kita menjadi manusia langka ?, dalam arti memiliki kemampuan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Sehingga dimanapun kita berada akan selalu dirasakan manfaatnya oleh orang lain dan ketika kita tidak ada selalu dinantikan kehadirannya. Bukan tidak mungkin, ketika orang ditanya “pilih air atau berlian ?” mereka akan menjawab “saya pilih Anda, karena air dan berlian itu ada pada diri Anda”.

Wallahu’alam.

1 komentar untuk “Di Antara Berlian dan Air”

  1. bener sid, kalo dulu mungkin lebih mudah menjadi manusia langka, seiring dengan kemajuan zaman, kelangkaan sendiri bahkan menjadi barang langka.

    sepatutnya memang jadi langka dan berguna 🙂

    thanks artikelnya

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *