Masihkah membayangkan “seandainya waktu bisa diputar ulang…” ?

Ketika seseorang membayangkan “andaikan saja waktu bisa diputar ulang ?”, ia cenderung tidak akan memilih ke saat-saat dimana ia baru dilahirkan atau saat-saat dalam bentuk embrio saja belum.

Hampir rata-rata orang yang membayangkan demikian punya keinginan untuk kembali menempatkan dirinya pada saat/momentum yang menurut dia paling membahagiakan seumur hidupnya. Paling tidak ketika ia membayangkan satu momen tertentu, entah itu soal pekerjaan, hubungan, atau tindakan.

Saya pernah membayangkan demikian, sampai kemudian “Astagfirullahaladzim” menurut logika saya ; ketika kita membayangkan “andaikan saja waktu bisa diputar ulang ?”, maka saat itu seperti tak ubahnya sedang BERPUTUS ASA.

Kita seolah menyimpulkan bahwa Allah tidak akan memberikan momentum yang lebih indah lagi di masa depan kita dibanding momentum indah yang sudah berlalu. Sekali lagi, istighfar.

Padahal, jika waktu benar-benar bisa kita putar sendiri bisa jadi kita tidak akan pernah bertemu dengan momentum indah yang sudah berlalu itu. Sedikit-sedikit menyerah, sedikit-sedikit diputar kembali, padahal jarak kita dengan kebahagiaan yang ada di hadapan bisa jadi sudah begitu dekat.

Allah lebih Maha Tahu (dibanding diri kita sendiri) kapan kita layak untuk diberi suasana yang membahagian dan kapan harus diasah dengan ujian.

Masih mau punya keinginan untuk bisa memutar ulang waktu ? Hemhhh… siap-siap saja makin menjauh dengan kebahagiaan.

3 komentar untuk “Masihkah membayangkan “seandainya waktu bisa diputar ulang…” ?”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *