Analisa Pengembangan Diri Menggunakan Metode SWOT

Yang pernah atau masih kuliah di jurusan ekonomi atau marketing mungkin sudah tidak asing lagi dengan istilah SWOT, akronim dari Strength, Weaknesses, Opportunities, dan Threats. Jika dalam bahasa Indonesia kurang lebih Kekuatan, Kelemahan, Peluang, dan Ancaman.

Metode SWOT
Metode SWOT (sumber gambar : taskmap.com)

Metode SWOT umumnya digunakan sebagai matriks penganalisa di dunia bisnis. SWOT merupakan kerangka kerja untuk menganalisis kekuatan dan kelemahan bisnis kita, serta peluang dan ancaman yang kemungkinan besar akan dihadapi. Ini akan membantu kita untuk fokus pada kekuatan yang dimiliki, meminimalisir kelemahan, mengantisipasi kemungkinan terburuk dan tentu saja memanfaatkan setiap peluang yang ada.

Sederhananya seperti itulah SWOT, sebuah konsep yang tidak pernah saya ketahui sebelum menggarap pekerjaan bersama Kang Chandra Iman, dosen marketing di Triguna Bogor sekaligus juga sohib saya yang tidak pernah kering hati untuk berbagi.

Di setiap awal bulan, konsep SWOT itu saya gunakan untuk menganalisa perkembangan fanpage sebuah perusahaan. Walau diaplikasikan dengan pengetahuan saya yang masih alakadarnya, terus terang SWOT memang sangat membantu.

Di tengah-tengah penggunaan SWOT untuk kepentingan bisnis, tiba-tiba terbersit dalam benak saya “gimana ya kalau SWOT digunakan untuk menganalisa diri kita sendiri ?

Dari situlah kemudian saya berselancar di internet untuk kembali mencari tahu soal SWOT, dan siapa tahu ada yang sudah menggunakannya untuk menganalisa diri sendiri.

Ternyata, SWOT memang ‘alat’ yang hebat untuk mendapatkan pegangan dalam kehidupan seseorang. Pesan saya dari sekarang : Jangan lupa untuk segera mencobanya setelah membaca tulisan ini.

Strength, Weaknesses, Opportunities, dan Threats. Dua kata pertama, kekuatan dan kelemahan, adalah atribut pribadi kita yang kita bawa ke kehidupan ini. Kata yang ketiga dan keempat, peluang dan ancaman, bisa kita anggap sebagai situasi dan pengaruh dari dunia luar yang akan menjadi arus dan memberi pengaruh kepada kita.

Sekarang, mari kita gunakan dua kata yang pertama dari matriks SWOT : kekuatan dan kelemahan. Sementara untuk matriks peluang dan ancaman (berdasarkan situasi yang ada) semoga bisa kita siasati begitu kita berhasil menganalisa kekuatan dan kelemahan pada diri kita

 

Kekuatan (Strength)

Apa potensi dan bakat kita ?

Sangat penting untuk mengetahui dengan jelas tentang apa potensi dan bakat yang kita miliki. Kita cenderung lebih bahagia jika hidup selaras dengan apa yang kita sukai. Dan – sebaliknya – mungkin tidak merasa bahagia jika apa yang kita lakukan tidak sesuai dengan potensi dan bakat kita. Misalnya, jika kreativitas adalah salah satu kekuatan kunci Anda, Anda mungkin tidak akan bahagia menjadi seorang pelaksana. Bukan berarti pelaksana itu tidak kreatif, tapi ruang kreativitas kita akan berbeda jika berada di posisi yang tepat sesuai dengan bakat dan potensi yang dimiliki.

Pengalaman apa yang dimiliki ?

Ada pepatah mengatakan “pengalaman adalah guru terbaik”. Bagaimana dengan pendidikan ? Di sini pendidikan bisa memiliki arti yang luas. Bukan hanya pendidikan formal, tapi juga tentang apa yang kita pelajari dari kehidupan itu sendiri. Bagaimana hubungan kita ? Siapa yang kita kenal ? Siapa yang bisa bekerjasama denga kita ? Siapa yang bisa kita mintai saran ? Bagaimana cara kita menhadapi masalah ?

Apakah lima pertanyaan tersebut bagian dari pengalaman ?

Tentu saja iya, tidak sedikit keberhasilan dalam karir ditunjang oleh pengalaman bagaimana cara kita mengolah gaya interaksi.

Apa yang kita kuasai ?

Jangan dulu minder, rendah hati memang perlu, tapi jangan sampai rasa rendah hati malah menjadikan kita terjebak pada istilah “tidak mampu” saat menjawab pertanyaan ini.

Secara umum, betul memang kita tidak boleh sombong, tetapi pada saat ini kita ingin mendapatkan gambaran yang jelas tentang diri kita.

Ketika merenungkan pertanyaan ini, pastikan mempertimbangkan semua aspek di kehidupan. Melihat semua hal yang dikuasai. Siapa tahu kita juga menemukan sebuah kekuatan dari dalam diri kita yang tampaknya itu terlalu alami kalau disebut sebagai keterampilan.

Apa sumber daya pribadi yang dimiliki ?

Namanya sumber daya, itu berarti segala potensi yang bisa menjadi ‘alat’ pengembangan diri kita. Biasanya orang akan mengerucutkannya ke dalam tiga hal, yaitu uang, waktu, dan energi. Mari kita tanyakan pada diri sendiri apakah memiliki pendapatan atau tabungan ? Bagaimana tentang waktu ? Apakah memiliki waktu untuk mengembangkan sesuatu yang baru atau benar-benar terikat dengan pekerjaan dan tugas sehari-hari ? Bagaimana tentang energi ? Apakah masih enerjik atau merasa sudah tak sanggup lagi adu gesit ?

Apa yang orang lain lihat tentang kelebihan pada diri kita ?

Jangan ragu untuk menanyakannya kepada keluarga, sahabat, dan teman-teman tentang kelebihan yang mereka lihat dari diri kita. Mereka mungkin melihat sesuatu yang tidak bisa kita lihat/sadari.

 

Kelemahan (Weaknesses)

Sudah menjadi sunatullah bahwasanya semua dari kita memiliki kekuatan yang selalu disertai dengan kelemahan. Seharusnya, sangat mudah bagi kita untuk berpikir tentang kelemahan diri sendiri. Tapi jangan salah, meski mudah tidak boleh asal dalam melihat kelemahan diri kita. Salah sedikit bukannya kita memperbaiki kelemahan tersebut, tapi malah berkeluh kesah dan menjatuhkan mental diri sendiri.

Cara yang cukup baik dalam memikirkan kelemahan sekaligus juga mengatasinya adalah dengan berpikir tentang bagaimana dan apa yang dapat kita tingkatkan.

Apa yang bisa diperbaiki?

Teman, apa yang ingin Anda ubah dalam hidup Anda ? Secara pribadi, saya sendiri ingin menjadi lebih sabar. Anda mungkin akan menganggap bahwa saya bukan orang yang sabar, saya tidak akan membantahnya, karena memang membuktikan bahwa kesabaran itu sebetulnya tidak ada batasnya tidaklah mudah. Tapi, tidak mudah belum tentu tidak mungkin, kan ?

Apa yang harus dihindari ?

Anda akan langsung menjawab apa ? yang terlintas di pikiran saya langsung adalah “mengeluh”.

Kesabaran adalah ujian terberat dalam hidup, dan setetes keluhan adalah tanda jebolnya benteng kesabaran kita. Satu hal yang ingin diperbaiki sebagaimana yang saya katakan tadi. Semakin sering saya mengeluh, semakin jauh dari kata sabar.

Kembali lagi kepadamu teman, apa yang harus paling dihindari dalam hidupmu ?

Apa yang orang lain lihat tentang kelemahan pada diri kita ?

Ini kebalikan dari apa yang orang lain lihat tentang kelebihan pada diri kita. Selain bertanya tentang kelebihan kita, jangan sungkan juga untuk bertanya tentang kelemahan pada diri kita.

Di sinilah pentingnya bagi kita untuk memiliki teman yang tidak selalu sepakat, kita butuh teman yang selalu berbeda pandangan. Ibarat mata, untuk bisa saling melihat secara utuh harus berhadapan (berlawanan arah), tidak satu arah tatapan.

Pastikan jika mereka menyampaikan kekurangan tentangdiri kita,  jangan tersinggung. Berterimakasihlah…

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *