Sebaiknya Jangan Mengikuti Lomba Blog yang Seperti Ini

Tiga tahun terakhir ini lomba blog nyaris tanpa henti, sambung menyambung dari satu lomba ke lomba berikutnya menantang blogger untuk adu kreasi  menulis dan menyajikannya dalam tampilan yang menarik. Menyesuaikan dengan kriteria yang ditetapkan oleh penyelenggara.

Ada yang penyelenggaraannya bombastis. Mulai dari woro-woro, banyaknya peserta, hingga besarnya hadiah. Tapi ada juga yang kontroversial, bikin para pesertanya greget kesel ndusel-dusel.

Dari hiruk-pikuknya lomba perblogan, munculah pertanyaan “harus kah semua lomba blog diikuti ?”. Tidak ada yang mengharuskan, juga tidak ada yang melarang. Tapi untuk mulai selektif rasanya perlu. Berikut ini adalah model-model lomba blog yang sebaiknya jangan diikuti, tapi kalau keukeuh sumeukeuh, itu terserah pilihan masing-masing.

Ketentuan yang bisa berubah

Sebaiknya pikirkan ulang jika Anda akan mengikuti lomba blog yang memiliki aturan main bisa berubah sewaktu-waktu. Misal ; Syarat dan ketentuan bisa berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan terlebih dahulu. Apalagi yang dimaksud adalah lomba SEO.

Sebagai contoh Anda mengikuti lomba SEO otomotif. Anda tidak diharuskan membuat tulisan yang bersifat user experience, tapi di penghujung kontes Anda diminta menyerahkan copy STNK dari kendaraan yang dijadikan bahan tulisan oleh Anda. Padahal, soal STNK itu sebelumnya sama sekali tidak dibahas di syarat dan ketentuan. Jangan harap bisa protes, karena Anda sudah terikat oleh poin syarat dan ketentuan yang bisa berubah sewaktu-waktu.

Bicara soal syarat dan ketentuan, saya sarankan supaya meng-capture-nya terlebih dahulu. Takut sewaktu-waktu ada perubahan ‘usil’ yang tidak Anda sadari.

Hadiah yang tidak jelas

Kita tidak perlu naif, bahwa hadiah adalah salah satu alasan mengikuti sebuah kontes blog. Satu contoh pada poin hadiah, penyelenggaranya menuliskan hadiah sebagai berikut :

  • Juara 1 : Tablet
  • Juara 2 : Smartphone
  • Juara 3 : Voucher

Kalau ekspetasi Anda rendah, tidak masalah mengikutinya. Tapi jika ekspetisnya tinggi ? lebih baik diurungkan.

Yang dimaksud ekspetasi di sini adalah Anda membayangkan jika tablet yang dimaksud adalah iPad atau Galaxy Tab. Smartphone yang dimaksud dipikirnya ponsel cerdas seharga minimal 3 jutaan. Voucher yang dimaksud dikiranya voucher belanja 1 juta rupiah.

Kalau ekspetasi Anda ketinggian, bisa jadi akan kecewa jika hadiah yang dimaksud ternyata :

  • Tablet = tablet  seharga 1 jutaan
  • Smartphone = handphone seharga 500 ribuan
  • Vocuher = voucher kedai kopi senilai 100 ribu yang lokasi kedainya jauh dari tempat Anda.

Penyelenggara tidak bisa disalahkan, dan sudah pasti akan angkat tangan. Lebih baik ikuti lomba blog yang menyebutkan hadiahnya dengan jelas (termasuk merk dan type – jika dalam bentuk barang) atau dalam bentuk nominal uang.

Track Rekor Penyelenggara

Ini penting. Terutama ketika penyelenggaranya tidak konsisten dalam menjalankan syarat dan ketentuan lomba yang pernah mereka selenggarakan di lomba sebelumnya. Apalagi kalau sudah menyangkut hadiah yang tidak sesuai.

Satu ketika pernah ikut lomba dengan beberapa kategori dan hadiah di tiap kategorinya bikin ngiler. Ternyata, hasil lombanya baru diumumkan lebih dari 1 tahun kemudian (dari penutupan) dengan jumlah pemenang yang tidak sesuai kategorinya.

Belajar dari situ, saya jadi tidak tertarik kembali untuk mengikuti lomba blog yang diselenggarakan oleh penyelenggara tersebut. Ternyata benar, di lomba blog berikutnya yang diselenggarakan masih belum bisa dibilang rapi.

Adu Banyak Like (Jempol)

Secara viral, ini bagus dan menguntungkan bagi penyelenggara, karena tulisan si peserta memungkinkan menyebar lebih luas, khususnya kepada pengguna Facebook. Kalau Anda tidak punya halaman Facebook (fanpage) dengan ratusan ribu, bahkan jutaan like, lebih baik tidak usah ikutan.

Lomba semacam ini adalah lomba yang paling dinantikan oleh para ‘peternak’ fanpage dengan jumlah like segambreng. Sekali share tautan tulisannya di halaman facebook, maka ratusan jempol yang nge-like kiriman tersebut otomatis terhitung juga di halaman tulisan. Padahal tulisannya belum tentu dibaca. Sementara Anda mati-matian share sana-sini biar banyak yang nge-like.

-oOo-

Selain dari poin-poin di atas yang membuat Anda lebih baik memikirkan ulang untuk mengikuti sebuah lomba blog, tentu masih ada hal-hal lain yang saya sarankan lebih baik Anda mengikutinya.

Yang utama tentu saja kebalikan dari ketentuan yang bisa berubah dan hadiah yang tidak jelas. Beberapa hal lain yang mestinya memacu Anda untuk ikut serta adalah ;

Jumlah karakter/kata yang dibatasi

Saya lebih suka dengan lomba blog yang mempunya ketentuan semacam ini. Contoh ; Jumlah kata pada tulisan maksimal 700 kata. Artinya ini memberi ‘kode’ bahwa tulisan kita akan dibaca dan penyelenggara (khususnya juri) sudah mengukur proses penjurian yang sudah pasti mengharuskan jurinya membaca.

Kalau misalnya ada 500 tulisan peserta dan 1 tulisannya sama dengan 3 halaman A4, Anda bisa bayangkan sendiri kurang lebih sang juri harus membaca tulisan dengan panjang 1.500 halaman A4. Apa jurinya tidak kelelahan ? apalagi jika durasinya tidak terlalu lama.

Dengan tidak ada ketentuan tersebut memang bukan berarti ada tulisan yang tidak dibaca. Tapi secara logika (seperti yang saya contohkan di atas), harusnya kita bisa mengambil kesimpulan sendiri.

Biasanya, tulisan yang akan ‘dicabut’ sebagai nominasi adalah yang panjang-panjang, beda-beda tipislah dengan skripsi. Jadi, jangan heran kalau kadang pemenangnya hanya menang panjang tulisan, bukan isi. Barangkali jurinya sudah enek duluan melihat tulisan yang panjang-panjang.

Jurinya yang jelas

Juri yang jelas bukan berarti memudahkan kita untuk korespondensi. Hati-hati, bisa jadi malah dimasukan ke keranjang sampah tulisan kita.

Dari juri yang jelas itulah kita bisa mengukur selera tulisan sang juri tanpa terlepas dari kriteria penilaian yang telah ditetapkan. Karena bagaimanapun jurinya adalah manusia (kecuali SEO), bukan robot.

-oOo-

Yang lainnya, silahkan ditambahkan oleh Anda berdasarkan pengalaman yang dimiliki.

22 komentar untuk “Sebaiknya Jangan Mengikuti Lomba Blog yang Seperti Ini”

  1. bener banget. jangan asal ikut lomba2 blog. pernah tuh ada instansi pemerintah disini yg nyelenggarain lomba blog, dan sdh bs ditebak.. prosesnya kacau balau. pengumuman diundur. dan hadiah ternyata tablet2 yg murahan :))

  2. Info yang bermanfaat.
    Saya blogger baru, baru nge-blog sekitar November 2012 lalu. Tulisan pertama saya adalah Banyak PR dengan waktu terbatas. Sebelumnya, saya tak pernah ikut lomba blog, karena tidak pernah tahu beritanya. Maklum GAPTEKer.
    Awal ikut lomba, yang diadakan blogDetik, itupun dengan syarat harus platform blogDetik. Maka saya pun bikin blog baru dengan platform blogDetik.

    Saat ini, saya masih bongkar pasang tata letak. (Agak kesal juga dengan kecepatan internet modem USB kartu smart yang ternyata lelet juga.)
    Saya lagi demen juga lihat Pulldown Menu di beberapa web/blog yang saya kunjungi.

    Saya lihat di pulldown menu Agan, ada duplikasi “Catatan Kaki”. Coba deh, cek lagi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *