Menjadikan Ngeblog Sebagai Bagian Proses Rehabilitasi Pengguna Narkoba

Ada banyak artikel tentang narkoba yang bisa kita temukan di internet. Berbagai paparan tersaji di sana, mulai dari yang benar-benar ahli tentang narkotika, psikotropika, dan zat adiktif (Napza) sampai deretan kisah dari mereka yang sukses melepaskan diri dari candu telur-telur setan tersebut.

Kita apresiasi kepedulian mereka yang tidak abai mengingatkan saudara-saudaranya agar tidak punya rasa penasaran sedikitpun untuk mencicipi yang namanya narkoba.

Dalam tulisan ini saya tidak akan membahas apa itu narkoba, apalagi mengupas jenis demi jenisnya hingga bagian terkecil. Terus terang, saya bukan ahlinya. Cukup dengan memasukan kata kunci “narkoba” di Google pun akan tersaji jutaan website yang menampilkan tautan artikel tentang narkoba.

Saya coba tuliskan bagian dari sisi yang berbeda, sisi yang akan memberi power tambahan dalam menumbuhkan kepekaan masyarakat terhadap bahaya narkoba.

Secara umum, masyarakat kita tahu bahwa narkoba merupakan sesuatu yang berbahaya. Tidak kurang, dari jenjang pendidikan SD hingga perguruan tinggi terus mendapatkan asupan kampanye anti narkoba, tapi sialnya disaat yang bersamaan juga digempur oleh agen-agen pemasaran narkoba yang masuk ke kehidupan mereka. Kadang muncul dalam benak kita ; kenapa semakin diberantas tapi malah makin meningkat penggunaannya ?

Sel-sel agen narkoba masuk ke dunia generasi muda (pelajar & mahasiswa) bisa diibaratkan sebagai proses penanaman benih kerusakan, tepatnya investasi iblis ! Tidak aneh jika pada mulanya mereka menawarkan secara gratis, karena secara berkelanjutan akan memicu ketergantungan, sehingga terciptalah kondisi supply and demand, dimana penawaran dan permintaan menjada mata rantai peredaran narkoba yang sangat sulit diputus dan diberantas.

Aparat berwenang bekerja pada pemberantasan dua hotspot vital peredaran narkoba, hulu dan hilir. Hulu adalah produsen dan hilir adalah pengguna. Sementara adanya pengedar tergantung pada hulu dan hilir tersebut.

Kalau ditimang mana yang paling prioritas untuk diberantas antara produsen dan pengguna, keduanya sama-sama penting untuk tidak ada lagi di bumi ini. Produsennya dienyahkan dan penggunanya kembali pada kehidupan yang normal dan bersosialiasi kembali dengan wajar.

Tapi, apakah ketika di Indonesia tidak ada lagi produsen berarti juga tidak akan ada lagi peredaran narkoba ? tentu saja tidak, sebab angka permintaan dari tingginya pengguna akan memicu datangnya suplai dari luar negeri. Inilah kenapa kejahat narkoba bersifat lintas negara (Trans National Crime). Bayangkan, sabu-sabu yang di Iran dihargai sekitar Rp. 50 juta per kilo, setibanya di Indonesia melejit sampai 40 kali lipat, Rp. 2 milyar.

rehabilitasi pengguna narkoba

Melihat kondisi seperti itu, saya sangat setuju dengan BNN, bahwa rehabilitasi adalah cara paling mungkin untuk menekan angka pengguna narkoba –bukan tidak mungkin hingga titik nol. Rehabilitasi adalah salah satu jawaban yang lebih baik ketika seorang pengguna narkoba tertangkap dan masuk penjara, tapi begitu bebas kiprahnya malah bisa merangkap sebagai pengedar bahkan produsen.

Secara halus, proses rehabilitasi narkoba bisa disebut memanusiakan manusia. Maaf, bukan berarti ketika seorang pengguna narkoba tidak lagi dianggap sebagai manusia, tapi dari situ kita bisa melihat ada yang salah ketika akal dan perasaan –sebagai mahkota manusia- yang seharusnya menjadi pencegah agar tidak dikendalikan oleh narkoba, ternyata tidak berfungsi dengan baik sebagaimana manusia normal pada umumnya.

Kunci dari rehabilitasi adalah menghilangkan adiksi (kecanduan) terhadap narkoba. Semakin banyak para pengguna yang berhasil direhabilitasi maka akan menekan angka permintaan terhadap pasar narkoba. Logika suksesnya adalah jika sudah tidak ada lagi permintaan, maka otomatis narkoba tidak akan lagi laku.

Ini bukan omong kosong, Thailand adalah salah satu negara yang berhasil membuktikannya dimana proses rehabilitasi berlangsung secara masif dan serentak. Rumah sakit – rumah sakit milik kepolisian dan militer ikut dilibatkan sebagai sentra rehabilitasi. Alhasil, Thailand pun sukses menjadi salah satu negara yang menekan angka peredaran narkoba secara drastis.

Memasukan Ngeblog Kedalam Proses Rehabilitasi

Proses rehabilitasi pecandu narkoba bisa dikatakan menyeluruh. Mencakup pembinaan teknis rehabilitasi medis, rehabilitasi sosial, dan rehabilitasi berbasis komunitas terapeutik atau metode lain yang telah teruji keberhasilannya dan penyatuan kembali ke dalam masyarakat serta perawatan lanjutan bagi penyalahguna dan/atau pecandu narkotika dan psikotropika serta bahan adiktif lainnya (kecuali bahan adiktif untuk tembakau dan alkohol).

Melihat prosesnya yang menyeluruh itulah saya kira kegiatan blogging (ngeblog) bisa menjadi bagian dari proses rehabilitasi.

Jika pada konsep deradikalisasi penanggulangan terorisme memungkinkan eks teroris memiliki pemikiran yang berubah 180 derajat sehingga ia mampu berbagi pengalaman yang justru menjadi kontra dengan masa lalunya, bukan tidak mungkin ini bisa dilakukan pada konsep dekriminalisasi penanggulangan penyalahgunaan narkoba.

Pada proses rehabilitasi pengguna narkoba, para pesertanya dikenalkan dengan kegiatan blogging. Para relawan berbagi pengalaman bagaimana cara membuat blog, membuat konten, berbagi teknik kepenulisan, dan saling bertukar buah pemikiran dengan cara blogwalking antar sesama peserta.

Saya berharap, ketika seorang pengguna narkoba berhasil direhabilitasi (atau saat proses rehabilitasi), ia punya kemauan dan rasa percaya diri untuk berbagi pengalaman kisa kelamnya sebagai pengguna narkoba dengan kehidupan yang begitu tersiksa melalui media blog. Sehingga makin tumbuh rasa kesadaran masyarakat bahwa kejahatan narkoba itu terus mengintai dan bukan tidak mungkin ada pada lingkungan terdekat kita.

Saya percaya, meski kadang tidak disampaikan dengan bahasa ilmiah… kisah dari sebuah pengalaman nyata akan lebih mudah menggugah perasaan dan pikiran dibanding sederet cerita yang dikemas dengan bahasa ilmiah tanpa adanya sentuhan user experience. Sebab, rasa sakitnya benar-benar telah dirasakan sendiri dan nyata perbedaan nikmatnya hidup ketika ia menjadi pengguna dan tidak menjadi pengguna.

Mudah-mudahan, artikel ini juga bisa menginspirasi eks pecandu narkoba yang kini telah hidup lebih merdeka agar mau ambil bagian dalam gerakan kampanye anti narkoba dengan memanfaatkan blog sebagai salah satu medianya.

Say yes to blogging, say no to drugs !

3 komentar untuk “Menjadikan Ngeblog Sebagai Bagian Proses Rehabilitasi Pengguna Narkoba”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *