Saya Cinta Jokowi

Cinta tanpa syarat ? nyaris tidak ada. Rasa cinta biasanya selalu mengandung unsur sebab akibat. Mulai dari rasa kagum hingga rasa keterikatan sebagai bagian.

Jokowi, mesti diakui adalah sebuah fenomena. Kemonceran kinerjanya memang luar biasa, ini bukan kata saya, tapi kata serangkaian penghargaan yang diperolehnya dari berbagai lembaga. Sosoknya di 2014 ini membuat saya bergumam “oh, ini toh ternyata”. Atas apa ? atas prediksi saya (bukan ramalan) 5 tahun lalu. Yaitu, kalau tidak ada sosok baru melejit menjadi tokoh kaliber nasional dalam 4 tahun, maka di pemilu yang akan datang (2014) Prabowo akan berjaya tanpa hambatan berarti.

Prediksi saya waktu itu berdasarkan analisa tokoh yang maju pada pilpres 2009 dan 2004. Usai Pemilu 2009, saya merasa Indonesia sudah kehabisan figur untuk bersaing di 2014. SBY sudah dua kali masa bakti, Budiono tidak punya kendaraan partai, Jusuf Kalla sudah terlalu sepuh, Wiranto sudah berkali-kali mencalonkan dan berkali-kali pula gagal, Megawati sama halnya dengan Jusuf Kalla. Hanya tinggal Prabowo dengan kendaraannya Gerindra yang punya kans sangat besar. Tapi sekali lagi, itu jika tidak ada sosok yang menjadi tokoh dalam waktu singkat.

2011-2012 adalah momentum meledaknya nama Jokowi. Menariknya, meledaknya nama Jokowi juga tidak terlepas dari sosok yang menjadi oponennya saat ini, yaitu Prabowo Subianto. Yah, Prabowo dengan Gerindranya adalah salah satu partai yang mengantarkan Jokowi ke tampuk DKI 1. Kesediaan Prabowo memberikan dukungan penuh pada saat itu bisa jadi karena Prabowo juga mengamini prestasi kinerja Jokowi selama di Solo. Adalah konyol jika pada Pilwalkot berhasil meraih 90% suara tanpa dilatari oleh kepuasan masyarakat atas kinerjanya.

Jadi, kalau selama ini kubu pendukung antara Jokowi (PDIP) dan Prabowo (Gerindra) saling serang di media sosial, harusnya bersama-sama menengok kembali ke masa-masa kemesraan pada Pemilihan Gubernur Jakarta 2012. Kalau dirasa masih kurang, lebih jauh lagi tengok ke belekang, yaitu Pemilu 2009. Saat dimana isyu pelanggaran HAM dan kewarganegaraan Prabowo tidak senyaring Pemilu tahun ini (tanya kenapa ?). Saat dimana isyu agama dan etnis Jokowi tidak segaung pada Pilgub DKI Jakarta dulu.

Kembali ke soal Jokowi !

Secara pribadi, saya kagum dan cinta kepada sosok Jokowi (tentu dengan sebab). Cinta dalam artian pada kinerjanya yang menurut media tercitrakan begitu luar biasa. Saya cinta pada kesahajaannya, meski banyak yang menilai “ada udang” di balik kesahajaan itu. Saya apresiatif kepada etos kerjanya, sekalipun banyak yang beranggapan itu pencitraan. Toh pada dasarnya itu membutuhkan tenaga ekstra yang luar biasa juga. Sebagai seorang pemimpin, ada banyak teladan dan effect yang bisa kita ambil dan pelajari dari beliau.

Tapi sayang beribu sayang, pada Pemilu tahun ini saya tidak bisa memilih beliau ? 🙁 . Bukan karena saya tidak tercatat pada DPT, bukan pula karena kabar miring ini itu soal Jokowi. Sekali lagi bukan !

Lantas karena apa ? itu tadi seperti di awal saya katakan, karena saya cinta Jokowi. Kurang jelas ? KARENA SAYA CINTA JOKOWI.

Apa yang akan Anda lakukan jika Anda merasa cinta terhadap sesuatu ?

Yang paling dasar adalah melindungi atau menjaganya. Melindungi agar terhindar dari bahaya dan menjaga agar tidak terpeleset pada kealfaan.

Saya tidak bisa memilih Jokowi karena saya cinta Jokowi. Saya peduli atas komitmen Jokowi. Sebagai orang yang cinta pada beliau, saya tidak ingin ‘menjebak’ atau ‘menjerumuskan’ beliau untuk berbuat inkar atas jani/komitmennya untuk menata Jakarta sampai masa baktinya tuntas. Janji yang beliau ikrarkan di hadapan para wakil jutaan rakyat Jakarta (Kompas : Jokowi Janji Pimpin Jakarta Sampai Tuntas).

Kita semua tahu, kalau inkar janji itu sama halnya dusta. Apakah ada, satu agama saja yang mengajarkan kita berdusta ? saya rasa tidak ada. Tapi saya percaya, bahwa semua ajaran (entah itu agama atau ideologi) mengajarkan penganutnya untuk saling melindungi dan menjaga umat/pengikutnya untuk terhindar dari bahaya dan kealfaan. Saya, berusaha menunaikan itu atas agama dan ideologi yang saya yakini untuk saudara seiman saya, yaitu Jokowi.

janji jokowi
Janji Jokowi (by. detik.com)

Untungnya, Jokowi memilih mengambil cuti bukan mengundurkan diri dari jabatan gubernur DKI Jakarta, sehingga beliau masih punya kesempatan untuk kembali memegang dan menjaga janji yang pernah terikrakan. Kalaupun ternyata kelak beliau tidak kembali pada amanah jabatan tersebut, Allah Maha Menilai, Maha Tahu, dan Maha Adil. Saya, sebagai manusia biasa, tidak ada hak untuk menghakimi (tapi punya kewajiban untuk saling menjaga).

Semoga Jokowi (begitupun kita) selalu dalam lindungan Allah SWT.

Salam

9 komentar untuk “Saya Cinta Jokowi”

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *