Seba, Tradisi Luhur Penuh Sahaja Suku Baduy

Tentram, sejuk, dan damai. Tiga kata paling sederhana yang sering terbersit di pikiran banyak orang ketika menginjakan kaki di tanah ulayat masyarakat Baduy.

Suasana yang mampu melenyapkan kerancuan pikiran karena tingginya ritme hidup di perkotaan itu pada hari Jum’at (2/5/2014) tiba-tiba saja riuh gemuruh. Lebih dari 1000 pria Baduy Luar dipimpin oleh ketua ada sekaligus Kepala Desa Kanekes, yaitu Bapak Jaro Dainah, bergegas menaiki kendaraan yang sudah memadati area parkir Ciboleger untuk menuju Pendopo Bupati Lebak di Rangkas Bitung dan Pusat Pemerintahan Provinsi Banten di Kota Serang. Sementara 18 orang Baduy Dalam yang dipimpin Ayah Mursyid telah lebih dulu berangkat dengan berjalan kaki sejauh (kurang lebih) 36 km menuju Rangkasbitung. Dengan penuh semangat dan suka cita, saudara-saudara kita Suku Baduy akan melangsungkan ritual adat yang dikenal dengan Seba sebagai puncak dari puasa Kawalu tiga bulan lamanya.

Tradisi Seba suku Baduy (by. fotografiindonesia.net)
Tradisi Seba suku Baduy (by. fotografiindonesia.net)

Umumnya Seba ini dikenal sebagai bentuk tradisi ritual rasa syukur atas hasil bumi di tanah ulayat suku Baduy. Rasa syukur yang tidak hanya dihaturkan kepada Sang Maha Pencipta, tetapi juga kepada para pemimpin negeri yang menjadi pamong di Kabupaten Lebak dan Provinsi Banten.

Meski menurut sebagian orang Seba ini dipahami juga sebagai penyerahan upeti, sejatinya kegiatan seba ini tanpa ada paksaan dari manapun. Masyarakat baduy Baduy luar dan Baduy dalam bersama-sama berbondong-bondong membawa hasil tani tersebut pada pemerintahan diserahkan secara langsung.

Umumnya seperti itu, tapi kalau saja kita mau melihatnya dari sudut pandang yang berbeda, bahkan lebih dalam dan lebih dalam lagi, kita akan menemukan banyak pesan moral yang bisa diteladani.

Bentuk Rasa Syukur,  Hormat dan Cinta Tanah Air

Kalau kita berkeliling Indonesia atau bahkan dunia, mungkin akan sangat jarang sekali menemukan tradisi seserahan seperti ini yang sering dianonimkan dengan penyerahan upeti seperti pada era zaman kerajaan dulu. Apalagi harus berjalan kaki dengan jarak yang jauhnya puluhan kilometer dan ditempuh dengan tanpa alas kaki.

Inilah sebuah contoh konkrit dari rasa syukur (terimakasih) dan hormat dari rakyat kepada pemimpinnya. Kalau kepada Maha Pencipta tentu tidak perlu dipertanyakan lagi, mereka memiliki cara tersendiri untuk melakukannya.

Beberapa orang suku Baduy (Dalam) dipimpin oleh Ayah Mursyid berjalan kaki tanpa alas puluhan kilometer menuju pusat Pemerintahan Kab. Lebak dan Provinsi Banteng dalam menjalankan tradisi Seba.
Beberapa orang suku Baduy (Dalam) dipimpin oleh Ayah Mursyid berjalan kaki puluhan kilometer tanpa alas menuju pusat Pemerintahan Kab. Lebak dan Provinsi Banten dalam menjalankan tradisi Seba. (doc. pribadi)

Dengan hak atas tanah ulayatnya dari para leluhur mereka, bisa saja masyarakat Baduy cukup dipimpin Puun. Tanpa harus ada lagi yang mereka sebut sebagai Bapak / Ibu Gede (Bupati dan Gubernur). Nyatanya tidak, ini artinya masyarakat suku Baduy mengakui adanya suatu pemerintahan di luar sistem adat dan mereka adalah bagian dari itu.

Pemerintahan yang diharapkan bisa mengendalikan masyarakat di luar suku Baduy untuk tidak menggangu masyarakat Baduy semisal penyerobotan tanah ulayat, perbuatan kriminal seperti pencurian hasil panen/ternak dan tindakan asusila. Karena, masyarakat Baduy-pun tidak pernah mengganggu orang-orang di luar Baduy. Malahan mereka bersikap begitu ramah dan hangat kepada siapapun yang berkunjung ke Baduy. Ribuan orang datang ke Baduy, mulai dari yang sekedar berwisata hingga melakukan penelitian. Orang Baduy selalu bersikap terbuka dan bahkan tidak pernah bosan menjawab dengan ramah berbagai pertanyaan yang mungkin sudah sangat sering ditanyakan oleh pengunjung.

Kita, yang sudah seperti kehilangan rasa hormat kepada pemimpin kita (padahal agama mewajibkannya), sepertinya harus belajar kepada masyarakat Baduy bagaimana caranya menumbuhkan rasa hormat kepada para pemimpin.

Penyampaian Aspirasi yang Elegan

Dari dua cara menyampaikan aspriasi yang paling umum, yaitu demonstrasi dan diplomasi, mana yang paling modern ?

Saya tidak habis pikir kalau orang memilih kata demonstrasi. Sederhananya, kalau aspirasi kita bisa dilakukan dengan cara-cara yang elegan, kenapa harus dengan cara-cara yang kasar.

Kita bisa belajar dari Seba masyarakat Baduy. Pada ritual Seba tersebut, suku Baduy tidak hanya menyerahkan hasil bumi semata, tapi juga bertukar pikiran, berbagi pandangan, dan memberi masukan kepada Pemerintah Lebak dan Banten. Tidak dengan teriak-teriak secara kasar, tapi dengan kesantunan. Ibaratnya, kita ini mau meminta/memberi sesuatu kepada orang tua kita, kira-kira orang tua kita ini lebih suka dengan cara apa, diminta/diberi secara kasar atau halus ?

Berduyun-duyun turun gunung mengikuti Seba
Pria suku Baduy (Luar) berduyun-duyun turun untuk menjalankan tradisi Seba. (doc. pribadi)

-oOo-

Prinsip dasar masyarakat Baduy itu sederhana ;

Gunung tak diperkenankan dilebur

Lembah tak diperkenankan dirusak

Larangan tak boleh di rubah

Panjang tak boleh dipotong

Pendek tak boleh disambung

yang bukan harus ditolak yang jangan harus dilarang

yang benar haruslah dibenarkan

Tapi dari prinsip yang sederhana itu mampu mencegah diri dari berbuat kerusakan, baik secara perilaku maupun etika. Ternyata prinsip itu tidak harus muluk-muluk, apalagi rumit. Cukup yang sederhana, tapi konsisten menjalankannya.

Dari Seba Baduy juga kita bisa belajar makna sebuah ketaatan. Suku Baduy tidak mempunyai aturan tertulis, tapi dengan tidak tertulis saja mereka bisa begitu taat. Seharusnya kita malu dengan aturan yang justru kita buat sendiri, tertulis, lalu dilanggar sendiri.

Suku Baduy sadar betul, bahwa aturan ada untuk ditaati agar tercipta sebuah kondisi yang seimbang (harmoni), terkendali, dan tidak merugikan.

“Di masyarakat Baduy, tidak ada orang kaya, namun tidak ada orang miskin.” Demikian pernyataan Bapak Jaro Dainah, Kepala Desa Kanekes yang membawahi seluruh wilayah tempat pemukiman Suku Baduy.

Sebagai catatan, kalau Anda berkunjung ke Baduy, posisikan diri Anda sebagai saudara yang akan bersilaturahim ke rumah saudaranya (bayangkan bagaiamana sikap seorang saudara berkunjung ke saudaranya), datang dengan penuh kehangatan, tata krama, etika, dan kesopanan yang melekat. Bukan sebagai manusia kota yang datang seolah untuk menyaksikan sekumpulan manusia dengan peradaban terbelakang. Ini adalah kesalahan yang paling umum dilakukan oleh pengunjung yang kadang menganggap saudara-saudara kita ini primitif. Percaya lah, pada soal falsafah hidup, bisa jadi kita lah yang primitif, terutama soal bagaiamana kita hidup berdampingan dengan alam.

Hati-hati, sekali berkunjung ke Baduy akan membuat Anda terpesona dan rindu untuk datang kembali.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *