Dalam Situasi Perang, Kepemimpinan Bayangan Bisa Jadi Alternatif

Kepemimpinan Bayangan – Vital, harga mati dan bahkan sakral adalah beberapa istilah yang mengafirmasi bahwa kepemimpinan itu harus ada untuk tergeraknya sistem dan tercapainya tujuan, terutama bagi bangsa atau komunitas yang berada pada situasi perang.

Untuk ukuran bangsa, saya ingin mengambil contoh Palestina. Rangkaian perjuangan untuk memerdekakan diri dari penjajahan Israel pantang surut bertahun-tahun. Dalam kondisi yang kian terjepit, bisa saja penduduk Palestina angkat kaki dari tanah leluhurnya, kemudian berimigrasi ke negara lain. Nyatanya mereka tidak, spirit “menjaga tanah suci” sudah menjadi harga mati yang benar-benar dibela sampai mati.

Peperangan mungkin memang salah, karena akibatnya menimbulkan korban yang tidak sedikit, mengerikan! tapi perang belum tentu salah, atas nama melawan penindasan terhadap kemanusiaan, perang malah bisa jadi benar, bahkan suci. Lalu yang salah apa? invasi, penjajahan, kolonialisasi, dan lain sejenisnya yang jadi biang keladi perang mustahil rasanya untuk bisa dianggap benar.

Perjuangan Palestina dalam memperjuangkan kemerdekaan telah melahirkan banyak pemimpin yang kebesaran dan kharismanya mashur ke penjuru jagad raya. Akan tetapi, dari sisi yang berbeda kemunculan tokoh-tokoh ini dibidik sebagai ancaman oleh kacamata Israel. Kondisi seperti ini tentu pernah terjadi juga di Indonesia, di mana rata-rata tokoh dan pemimpin kita di era perjuangan setiap gerak-gerik dan potensinya dibidik oleh Belanda dan Jepang. Dianggap berbahaya sedikit langsung dipenjara, bahkan diasingkan.

Pada situasi sulit atau perang, sentralisasi kepemimpinan pada satu figur dianggap penting, karena ia bisa menjadi simbol pemersatu bangsa. Sementara persatuan iu sendiri merupakan senjata paling utama dalam sebuah perjuangan, dimana pemimpin adalah kokangnya. Sayangnya, di situlah kelebihannya maka di situ juga kelemahannya, dibredel kokangnya maka rontoklah kekuatan.

Sosok figur yang mampu melakukan hal tersebut adalah aset bangsa yang tak ternilai harganya, tapi nilai tersebut bisa hilang seketika manakala dimusnahkan oleh musuh. Di Palestina kita bisa melihat bagaimana Marwan Barghouti sebagai sosok figur seperti itu. Di mana pengaruhnya sangat luar biasa dan dipercaya mampu menyatukan faksi Hamas dan Fatah yang masih berselisih. Karena kemampuannya bisa menjadi sentralisasi persatuan Palestina pula, pemimpin intifadah pertama dan kedua ini dilabeli teroris nomor wahid oleh Israel, kemudian ditangkap dan ditahan hingga hari ini. Sebuah kehilangan yang luar biasa bagi Palestina khususnya dan masyarakat dunia umumnya, yang memimpikan Palestina menjadi bagian dari daftar negara merdeka.

Belajar dari kondisi tersebut, model kepemimpinan bayangan adalah alternatif untuk diterapkan sebagai bagian dari siyasah nasional demi tercapainya tujuan (kemerdekaan). Meski harus diakui, kepemimpinan bayangan sangatlah sulit. Apalagi kita cenderung lebih mengenal 3 model kepemimpinan, yaitu efektif, kharismatik, dan transformasional (dengan idealized influence, inspirational motivation, intellectual stimulation, dan individual consideration sebagai faktor utamanya).

Dalam model kepemimpinan bayangan, sosok yang menjadi pemimpin resmi hanya sebatas seremonial belaka. Ia adalah bayangan yang berwujud dari pemimpin di belakangnya. Kasarnya, pemimpin resminya adalah boneka atau wayang, sementara sosok dibaliknya (pemimpin asli) adalah dalang. Itulah kenapa saya katakan ini sangat sulit, terlalu ekstrim.

Tapi kenapa pada kondisi tertentu bisa jadi alternatif untuk digunakan ?

Yang paling utama adalah untuk menjaga dan melindungi sosok yang setiap pemikiran, gagasan, strategi, dan wawasannya brilian dari ancaman pemusnahan oleh pihak musuh.

Baik pemimpin asli maupun pemimpin bayangan dituntut harus sama-sama ikhlas demi tujuan yang ingin dicapai oleh bangsanya (kemerdakaan). Pemimpin asli harus ikhlas bahwa nama yang akan menjadi besar jika tujuan bangsanya dicapai adalah nama pemimpin bayangan, dan pemimpin bayangan harus ikhlas dan rela menjadi aktualisasi dari pemimpin asli dengan setiap arahan kebijakan yang mungkin harus mengabaikan tujuan-tujuan pribadi. Bahkan, pemimpin bayangan harus siap dan ikhlas jika dia menjadi sasaran pemusnahan oleh musuh, karena musuh bisa mengira bahwa kebijakan sepenuhnya lahir dari dirinya. Keduanya harus meniadakan kepentingan-kepentingan atas nama kelompok, golongan, keluarga, apalagi pribadi. Hidup dan matinya diwakafkan untuk bangsa dan tanah air.

Sebaliknya, jika negara sudah lepas dari belenggu penjajahan dan sedang merintis pembangunan, adalah sangat berbahaya jika kepemimpinannya mengadopsi model kepemimpinan bayangan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *